Friday, September 27, 2013

Seminar Kepemimpinan part 1. Rantai Gajah


Ahad yang lalu, 15 September 2013, aku ikutan seminar kepemimpinan #TheGreatLeader di Rabbani Rawamangun. Jargonnya sih menyebutkan nama Khalid bin Walid. Kupikir acaranya mungkin akan membahas tentang sahabat Rasulullah yang digelari sebagai "Pedang ALLAH yang terhunus" itu. Aku pun jadi tertarik ikut karena membayangkan akan mendapat pencerahan mengenai kepemimpinan dan kisah Khalid bin Walid. Apalagi tiket seminar tersebut mendapat diskon 50% bagi follower  @Sahabat_Rasul, yaitu hanya membayar Rp50,000 dari seharusnya bayar Rp100,000 hehehe. (FYI sedikit, aku biasanya berani bayar tiket dibawah/seharga Rp50,000 untuk seminar-seminar ilmu. Tapi kalo di atas harga itu, aku mikir-mikir berkali-kali dulu yang lamaaaaa hahaha).

Jadi, berangkatlah aku ke seminar tersebut dengan segudang harapan. Harapan memperolah ilmu baru tentang kepemimpinan (karena aku sama sekali payah memimpin diri sendiri T__T), memperoleh ilmu baru mengenai Khalid bin Walid, dan harapan melebarkan ruang gerak. Kenapa melebarkan ruang gerak? Karena aku terbiasa jadi anak rumahan yang buta arah dan ga tau jalan. hiks...Jadi ini akan jadi pengalaman bepergian ke daerah rawamangun hahahhaa :p

Aku berangkat di antar ayah. Begitu sampai di Rabbani, aku sempat bingung. Ini toko baju kan ya...seminarnya dimana? Aku yang baru pertama kali ke Rabbani jadi agak norak juga hahhaha. Akhirnya di lantai dasar itu aku nanya ke mbak-mbak kasir mengenai seminar. Dan mbak nya langsung mengatakan kalau seminar ada di lantai 5, sambil menunjukkan arah elevator. Aku sempet kagum juga pas denger penjelasan mbaknya. Wah..lantai 5? Tinggi juga ya untuk sebuah toko baju. Apalagi pake lift segala. Keren! <-- Ke-norak-an pertama :p

Begitu sampai di lantai 5, pemandangan begitu keluar lift langsung berupa aula luas gitu. Aku jalan aja dan mendatangi meja registrasi, yang langsung disambut dengan kata "Maaf Mbak, sepatunya dilepas dulu di sana (sambil nunjuk rak sepatu)".

"Oh, maaf Mbak saya ga tau". Aku langsung balik arah ke tempat rak sepatu, dan begitu sampai rak sepatu (yang ternyata tempat aku keluar dari lift), tertampanglah notice yang cukup besar: "Harap meletakkan sepatu/sandal di tempat ini". Doeeeeeeng ternyata ada pemberitahuannya! Aku kenapa pas keluar lift ga nyadar sih! malu bangeeeeeet < Ke-norak-an kedua hahhhaha

Setelah insiden itu, aku balik lagi ke meja registrasi dan duduk di tempat peserta. Aku duduk di baris belakang, dan hanya ada satu orang di samping aku. Aku salaman sama dia, tapi karena aku orangnya introvert, rasanya mau kenalan dan ngobrol tuh beraaaaaat banget. Padahal harunys mudah karena cuma satu orang doang. Akhirnya aku duduk diem, tapi dalem hati mikirin pertanyaan-pertanyaan yang bisa aku lontarkan buat kenalan. Duh, suasananya awkward gini..aku mau ngomong apa ya??

Alhamdulillah..sekitar 5 menit berlalu, mbak yang di samping aku yang duluan nyapa aku. Akhirnya kita berkenalan, dan nama dia Irma. Kita akhirnya ngobrol-ngobrol sedikit sampai akhirnya acara di mulai.

Acara dimulai dengan intermezzo dan ice breaking. Kemudian dilanjutkan oleh pemateri pertama, yaitu Surya Fazar. Aku ga kenal dia, tapi first impression aku ke dia adalah: Tinggi, ya. (*Gubrakk)

Second impression aku ke dia setelah dia ice breaking dan memperkenalkan profilnya: What? Kelahiran 1994? udah jadi trainer? Subhanallah...ga nyangka umurnya bahkan lebih muda dari aku.

Dan seiring berjalannya materi, aku jadi malu sendiri karena kata-kata dan materi dari dia bikin aku jleb jleb jleb banget. Pas materi tentang "rantai gajah" aku sampai nangis. Dan aku kembali menangis ketika kami, para peserta, diminta saling bergandengan tangan dan membentuk lingkaran untuk mendeklarasikan janji kami untuk menjadi pribadi ALLAH yang istimewa. Istimewa bagi diri sendiri, istimewa bagi keluarga/ sahabat/lingkungan sekitar, istimewa karena ALLAH telah mengistimewakan penciptaan kami :')

Oh iya. Tentang "Rantai Gajah". Disebut "Rantai Gajah" karena dianalogikan melalui pertanyaan ini:

"Bagaimana cara menjinakkan gajah liar?"

*silahkan sebelum lanjut membaca tulisannya, dijawab masing-masing dulu hehehe*

.......

........

..........

Yak. Yang sudah punya jawaban, boleh dicocokkan dengan jawaban dari trainer Surya ya,,Ternyata untuk menjinakkan gajah liar itu cukup mudah. Pertama, bius gajahnya hingga tak sadarkan diri. Lalu, pasang rantai kapal/tali yang tebel di kakinya. Tunggu sampai gajah liarnya bangun. Lalu ketika sang gajah bangun dan berlari--mencoba kabur--pada jarak tertentu apa yang terjadi? Gajahnya jatuh dan ga bisa maju karena terikat rantai kapal. Kalau dia mau berusaha bangun dan maksa lari lagi, apa yang terjadi? Gajahnya jatuh lagi. Berulangkali si gajah jatuh bangun jatuh bangun sampe akhirnya kecapekan. Abis itu datanglah orang yang membius dia tadi, dengan membawa makanan yang ga enak. Kira-kira dimakan ga? Kalau kecapekan sih ya dimakan deh biar nambah energi.

Bayangkan jika keadaan ini terjadi berbulan-bulan, atau setidaknya berhari-hari. Kira-kira sang gajah bakalan protes sama makanan yang ga enaknya, atau malah terbiasa? Trus gajahnya bakal nyoba kabur atau udah kebiasa santai-santai dan dapet makanan?

Lalu bagaimana kalau rantai kapal yang mengikatnya selama berhari-hari atau berbulan-bulan itu akhirnya dilepas? Masihkah gajah mencoba kabur?

Sang gajah ga mencoba kabur lagi. Karena rantainya sudah dipindahkan.

Pindah kemana?

Ke pikiran si gajah. Si gajah udah menyimpan tuh dalam memorinya bahwa dia ga bisa kabur. Udah berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, dia terbiasa berdiam dan dapat makanan gratis. Dia masih mengingat bahwa dia ga bisa kabur karena percuma--dia jatuh terus. Dan si gajah percaya bahwa percuma untuk kabur.

Nah, lalu bagaimana dengan kita? Ternyata kita juga punya loh "rantai gajah" ini. Kita punya "rantai gajah" yang membatasi diri kita untuk berusaha bergerak dan berlari untuk mencapai tujuan kita. Hanya saja, "rantai gajah" yang mengikat kita untuk berjalan adalah berupa:
1. Aku bodoh
2. Aku keturunan miskin
3. Aku tidak bisa sukses
4. Aku tidak percaya diri
5. Aku tidak bisa seperti mereka
6. Aku takut gagal
7. dan lain-lain

Bingung? sekarang coba deh ambil secarik kertas dan pikirkan (serta analisa) "rantai gajah" kita beserta konsekuensinya. Kemaren, ini "rantai gajah" yang aku bikin.


Dari gambar diatas, bisa dilihat "rantai gajah" yang aku punya, yang membuat aku merasa susah untuk bergerak dan berlari maju menuju kesuksesan. Aku ambil contoh satu ya buat dijelasin..

1.
Rantai Gajah: Ga tau jalan (buta arah)
Apa yang Terjadi jika Ga tau jalan? Aku ga berani pergi-pergi keluar rumah yang jauh jaraknya.
Apa yang terjadi jika Aku ga berani pergi-pergi? Link untuk mencari ilmu (seminar, dll) jadi sedikit.
Apa yang terjadi jika Link untuk cari ilmu sedikit? Ga berkembang potensi dalam diri aku.
Apa yang terjadi jika Potensi diri ga berkembang? Aku jadi useless dan ga bermanfaat untuk orang lain.

*Dan diteruskan pertanyaan ini sampai mentok dan ga tau mau jawab apa lagi. Dalam kasus aku, kalau aku udah jadi useless dan ga bermanfaat untuk orang lain, maka yang terjadi mungkin aku sedih dan kecewa sama diri sendiri. Terus kalau sedih dan kecewa, apa yang terjadi? Mungkin ga mau punya temen karena malu :((

Kemudian, setelah menganalisa rantai gajah dan konsekuensinya, list berikutnya dibuat pula yang isinya tentang resolusi harapan jika "rantai gajah" tersebut bisa dibuang. Ini resolusi yang aku bikin kemaren.


Aku contohkan lagi dengan kasus yang sama:

1.
Rantai Gajah: Ga tau jalan (buta arah)
Keuntungan Jika Rantai Tersebut Hilang:
- Bisa kemana-mana sendiri
- Bisa nyari ilmu dimana-mana
- Knowledge berkembang
Bagaimana Menghilangkannya?
- Jangan takut untuk sering jalan-jalan
- Jangan ragu untuk tanya arah lokasi
- Jalani dan alami sendiri bepergian dan amati lokasi

Nah. Sekian dari contoh resolusi aku. Harapannya, dengan melakukan kedua tahapan seperti di atas, kita--aku khususnya--jadi bisa menganalisa diri sendiri nih. Apa hambatan kita dan keuntungan apa yang sebenarnya bisa kita dapatkan dengan menghilangkan "rantai gajah" tersebut. Jujur, aku pas udah analisa "rantai gajah" diri sendiri jadi sedih..betapa sudah ada waktu dan manfaat yang terbuang hanya karena aku memanjakan dan menuruti "rantai gajah"ku sendiri :(( Padahal kalau aku bisa memikirkan dan menuruti langkah menghilangkan rantai gajah itu, setidaknya aku bisa lebih baik dari sekarang. Yup, kini saatnya untuk berubah! Hamasah! ( '^')9

Akhir kata, semoga info ini bermanfaat untuk mulai memimpin diri sendiri ya :D
Pimpin diri sendiri untuk menunju kesuksesan yang diidamkan ^^

*part 2 menyusul. hehe. Insya ALLAH tentang mem-planning masa depan ;)

Tuesday, August 13, 2013

random thought. don't even know what I'm writing


Pagi ini membuka Facebook, dan salah satu yang terpampang di newsfeed adalah status dari Islamedia berikut ini:

"40 Pasangan Menikah di Tengah Demonstrasi Pro-Mursi, Para Ikhwan Akhwat di Indonesia Bagaimana?"




*berita selengkapnya bisa dibaca di page Islamedia aja ya hehe

Tapi dari headline seperti itu, tiba-tiba terlintas dalam benak..


di Palestine yang sedang berjuang melawan Zionis, pernikahan massal juga terjadi. Demi melahirkan calon-calon syuhada


di Mesir, bahkan dalam suasana demonstrasi dan kecaman militer, syiar Islam tetap berjalan. Mereka menikah sambil meneriakkan keadilan, tak lupa akan perjuangan


di Indonesia? paling banter, banyak yang pacaran lol :p


...kalau Indonesia (harus) berada dalam kondisi seperti Palestine/Mesir, sikap masyarakat akan kayak gimana ya? Kalau lihat dari berita di televisi sih, yang gagal UN aja ada yang bunuh diri. Yang ditinggal nikah ama pacarnya, ada yang minum baygon. Ada pembagian zakat, dorong-dorongan injek-injekan sampe nenek-nenek banyak yang pingsan. Anak sekolah, tawuran. Anak bunuh ibu, ibu bunuh anak, suami bunuh istri, dan lain-lain konflik keluarga berujung pembunuhan. Hamil luar nikah, digugurin.


...jangan-jangan kalau Indonesia (harus) berada dalam kondisi menekan dan diteror kezhaliman, banyak yang memilih mati instan. naudzubillahi min dzalik.


astaghfirullah mikirnya serem banget sih aku.


ga lah. MPR aja diserang rakyat karena dirasa kenaikan BBM ga adil. Soeharto aja berhasil digulingkan oleh mahasiswa. Demonstrasi aja banyak terjadi di kantor-kantor lurah/camat/DPRD.


...kalau Indonesia (harus) berada dalam kondisi seperti Palestine/Mesir? berjuang melawan atau..?


lalu bagaimana dengan Rohingya dan Suriah? Yang benar-benar pasrah karena tak berkekuatan melawan? Hanya bisa berpikir bagaimana bisa bertahan hidup.


...jadi, kalau Indonesia (harus) berada dalam kondisi seperti negara-negara yang sedang ditekan kezhaliman, akankah berjuang melawan atau pasrah dengan keadaan?


.....


Oke ini ngaco banget dan bener-bener random deh yang aku pikirin -___-





Monday, August 12, 2013

Inilah efek dari terlalu menggampangkan sesuatu dan menundanya T__T


Singkat cerita--karena lagi panik, jadi ga mood dan ga bisa nulis banyak--, foto yang aku upload di website untuk wisuda semester genap tahun ajaran 2012/2013 masih merupakan foto narsis-dengan-muka-close-up-dan-nyengir-kuda asal-asalan yang aku upload dengan niat: "yang penting ada dulu, nanti bisa foto formal dan resmi dan ganti foto asal-asalan ini"

Setelah upload foto asal-asalan dengan niat begitu pada tanggal 29 Juli 2013, yang aku tahu pendaftaran wisuda akan dibuka sampai tanggal 12 Agustus 2013.

Oke!

Waktu berlalu. Aku santai-santai saja. Dan berniat akan mengganti foto setelah punya foto formal nan resmi ala pelamar kerja. Nanti, ketika akhir masa pendaftaran.

Hingga akhirnya hari ini, 12 Agustus 2013. Hari ketika aku akan meng-upload foto yang baru.




.....

Great. I cannot login.

Meaning I cannot change my previously-uploaded shameful-narcissistic-photo

Dear God, my photo...

I DON'T WANNA HAVE A BACHELOR'S DIPLOMA WITH MY NARCISSISTIC PHOTO ON IT!!




...dan TERNYATA di Twitter UI dituliskanlah itu kalau masa pendaftaran ditutup pada tanggal..

11 AGUSTUS 2013

Okay..

What should I do?! Aaaaaaack!!



Monday, August 5, 2013

Random Story


#1

"Abang beneran mau nikahin aye?" | "Iye, Neng. Nanti kita nikah ye" | "Alhamdulillah. Beneran ya Bang?" | "Iye"

#2

"Neng harus rawatin Emak di rumah sakit dulu Bang. Ga bisa ketemuan dulu" | "Sakit apa emang Emaknya Neng?" | "Komplikasi gitu lah Bang. sakitnya udah menahun" | "Hmm gitu..Abang jadi mikir. Neng nasehatin Emak biar jaga kesehatan.. Soalnye Abang khawatir. Nanti belum tentu Abang selalu ada buat rawatin Emaknya Neng"

*.... | Maksud Abang? Kayak yang udah pernah ngerawat Ibu aye aje

#2

"Bang, kapan dong nikahin aye? Kita udah pacaran hampir setahun loh.. Abang bilang mau nikahin aye" | "Maaf, Neng. Abang belom bisa nikahin Neng kalo masih ada abah aye"

*.... | Emang mau nunggu ampe abah Abang kagak ada?

#3

"Emang kenapa Bang? Abahnye..." | "Abah pengen mantu nyang pinter. Anak kedokteran kalo bisa mah"

*.... | Terus ngapain Abang deketin aye? Ampe ngajak pacaran segale?

#4

"Neng, ke rumah Abang ya" | "Ada apa Bang?" | "Abang sakit. Tapi Abang kangen Neng" | "Alamat sama rute angkotnya gimane Bang?"

#5

"Neng, makasih udah nemenin Abang yang lagi sakit ye" | "Iye Bang. Tapi kok ini rumah sepi Bang?" | "Orangtua pada lagi kerja" | "Oh.." | "Oiya, sekarang udah sore Neng. Bentar lagi orang tua Abang pulang kerja. Neng mau sekalian pulang?" | Hmm..iya Bang. Ntar Neng juga takur kesorean" | "Iye dah. Maaf ye Abang ga bisa anter pulang" | "Gapapa Bang"

#6

"Neng, kapan main lagi ke rumah Abang?" | "Kurang tau Bang. Ada apa?" | "Abang kangen nih"

#7

"Neng, udah mau maghrib. Kalo Neng ga pulang sekarang, ntar ketauan orang tua Abang kalo Neng main ke rumah"

* .... | Kok jadi backstreet gini Bang?

#8

"Mana janji manis Abang?! Aye ga pernah dibolehin ketemu orangtua Abang! Janji Abang untuk nikahin aye ternyata palsu?! Mending Abang cari aje dah tuh sono dokter-dokter kayak kepengenan abahnye Abang!"


* * * * *


Haha. Cerita di atas adalah cerita random yang tiba-tiba terlintas pas tilawahan pagi ini :p

Thursday, August 1, 2013

Aku harap ini bukan karena iri


Temanku sangat menyukai Jepang. Dia punya segambreng koleksi J-Dorama dan mp3 lagu-lagu Jepang. Band favoritnya adalah Arashi. Bahasa Jepang juga sudah mulai ia kuasai. Walaupun ia lulusan Program Studi Inggris FIB UI.

Maka ketika ada studi banding Universitas Ritsumeikan ke perpustakaan UI, ia menjadi salah satu LO dan sempat berkenalan dengan beberapa orang Jepang.

Mungkin dari situ semua bermula

* * * * *

Hari itu, temanku memperkenalkan aku dengan kedua teman Jepangnya, Yama dan Kana. Mereka suami-istri.

Beberapa hari setelahnya, temanku cerita padaku bagaimana ia berdiskusi tentang Jilbab dengan Yama dan Kuma.  Kuma? Nama baru lagi. Aku tertarik dengan cerita tersebut dan menawarkan diri bergabung dalam diskusi tersebut. Siapa tau bisa jadi syiar Islam?

Berkenalan dengan Kuma pada diskusi pertama. Teman BIPA (Bahasa Indonesia untuk Pelajar Asing) Yama. Tampan rupanya. And I think I fall for him.

Kemudian mendapat cerita dari temanku itu. Ia diajak makan di restoran oleh Yama, Kana, dan Kuma. Pegawai restoran berkata beberapa makanan tidak halal. Aku sedikit terkejut, ternyata temanku sudah seakrab itu hingga diajak makan malam di restoran. Tapi ada sesuatu yang mengusikku.

Lalu, aku dikenalkan dengan dua orang Jepang lainnya. Yuki dan Sayaka. Mereka adalah pasangan.

Hari-hari berikutnya, diskusi-diskusi berikutnya dengan Yama dan Kuma. Hingga akhirnya diskusi di apartemennya Yama. Memakan sajian rebusan sayur yang dimasak Kana. Dan pernah juga dibelikan Pizza oleh Yama untuk makan malam.

Wisuda BIPA. Hari yang sama dengan kepulangan Kuma ke negaranya. Temanku memberi hadiah gantungan berupa boneka beruang pada Kuma--Kuma dalam bahasa Indonesia artinya beruang. dan temanku beberapa hari kemudian sangat sedih. Aku pun merasa kehilangan. Suasana perpustakaan UI lantai 3, tempat aku biasa bertemu dengan Kuma sebelum bersiap diskusi, menjadi menyesakkan tanpa Kuma.

Sedikit hiburan beberapa minggu setelahnya. Aku menemani temanku untuk berbelanja sabun muka rekomendasi Kana. Kami pergi bertiga ke Margo City dan melihat-lihat ke gerai The Body Shop, Century, dan Guardian. Menyenangkan rasanya, walaupun aku lebih banyak diam karena temanku dan Kana banyak mengobrol menggunakan bahasa Jepang. Lalu, setelah mendapat barang yang dicari, Kana mengajak makan di The Imperial Kitchen, restoran yang terletak di sebelah Cinema XXI. Makanan disana terbilang lezat, walaupun menurutku agak sedikit mahal. Kami pun akhirnya selesai makan dan pulang.

Dan tiba pula saatnya Yuki untuk pulang ke negaranya. Aku tidak begitu akrab dengan Yuki, jadi tidak merasakan apa-apa ketika ia pulang. Tapi lagi-lagi temanku merasa sedih. Newsfeed Facebooknya mengindikasikan hal tersebut. Apalagi sebelum kepulangan Yuki, temanku ternyata tidak diajak ke acara farewellnya Yuki. Kesedihan temanku jadi bercampur aduk. Antara kecewa tetapi kehilangan.

* * * * *

Waktu berlalu. Aku lupa bagaimana kejadiannya hingga temanku itu menjadi sibuk sebagai guru bahasa Indonesia bagi mahasiswa BIPA. Bukan guru secara formal, lebih kepada guru yang menemani diskusi dan mengajarkan tata bahasa yang baik. Teman berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Dan profesi baru temanku itu membuatku hanya bisa bertemu dengannya antara jam 1 sampai jam 2. Biasanya waktu tersebut digunakan untuk bertemu dan makan siang bersama.

Ketika di sela-sela waktu aku bertemu dan berbincang dengan temanku, temanku menceritakan tentang murid BIPA yang ia ajar. Orang Korea. Nampaknya relasi temanku makin berkembang. Tapi yang membuat aku makin terkejut adalah, suatu hari temanku pernah mengeluh karena lama menunggu kedatangan muridnya di apartemen muridnya tersebut. Tunggu sebentar. Temanku menunggu di apartemen muridnya? Sendirian?. Temanku berkata bahwa awalnya ada rasa keberatan karena muridnya itu laki-laki, tapi muridnya meyakinkan bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Hmm..ya, mungkin orang asing ga tertarik dengan perempuan berjilbab. Tapi secara bebas bisa masuk apartemen orang lain? Laki-laki pula?

Kemudian obrolan kami setiap bertemu, berputar tentang murid-murid yang temanku ajar. Tentang murid A yang sifatnya begini, murid B yang sifatnya begitu, murid C yang kelakuannya seperti ini-itu, dan segala hal tentang apa yang temanku alami ketika mengajar.

Dan tiba-tiba temanku bertanya padaku, apakah aneh jika temanku menyukai salah satu muridnya. Aku sedikit bingung, dulu temanku mengeluhkan betapa pedasnya omongan si murid yang bernama Masaki ini ketika mengobrol dengannya. Sekarang temanku menyukainya karena sifatnya? Dan temanku juga bercerita mengenai hubungan Masaki dan istrinya yang temanku ketahui. Ya, Masaki sudah menikah.

Tak lama, foto Facebook itu muncul. Tas baru dari Kana untuk temanku.

* * * * *

Indri, teman seangkatanku yang berbeda kelas--yang juga aku anggap sebagai salah satu sahabat terbaikku--merencanakan untuk mengadakan buka puasa bersama. Aku sangat setuju dengan rencana itu dan membayangankan betapa menyenangkannya berkumpul kembali dengan teman-teman kuliah. Agak sulit untuk menentukan tanggal karena kesibukan teman-teman kuliahku. Sempat diputuskan tanggal 28 Juli 2013, tapi ternyata banyak teman-teman kuliah yang tidak bisa datang. Akhirnya diputuskan kembali untuk berbuka bersama di tanggal 31 Juli 2013

Tak lama hari berselang dari keputusan buka bersama tersebut, temanku mengupload foto di Facebook. Foto temanku dengan Yama dan Kana ketika makan malam sebelum kepulangan mereka berdua ke Jepang. Melihat foto-fotonya, hal yang mengusikku sebelumnya mulai muncul lagi. Aku memperhatikan temanku dengan make-upnya dan celana panjangnya. Make-up? Celana panjang? Hijab fashion? Sejak kapan temanku penampilannya jadi seperti itu?

Aku tidak masalah kalau soal riasan wajah dan hijab stylish. Tapi kenapa celana panjang? Bukan rok seperti yang selalu temanku kenakan?

Kemudian newsfeed galau dan lagu-lagu yang tak kalah galau memenuhi laman Facebook temanku. Bahkan di Twitter sangat gamblang tertulis bahwa hati temanku bagai tersayat-sayat dan temanku sudah menangis seharian.

Aku tau, pasti temanku sangat kehilangan Yama dan Kana.

Tapi yang aku kurang suka, haruskah mengekspos rasa kehilangan itu secara public?

Yang aku kurang suka, temanku tidak bisa datang ke acara buka bersama tanpa alasan yang jelas. Aku juga tidak bisa datang karena ada kendala kosongnya angkot yang bisa membawaku ke Depok. Tapi apa alasan temanku tidak bisa datang ke acara buka bersama?

Yang aku kurang suka, kenapa temanku tiba-tiba left dari grup yang dibuat untuk mendiskusikan acara buka bersama? Aku paham, acara buka bersama sudah berlalu. Tapi aku tidak meninggalkan grup itu karena disanalah aku bisa berbincang dengan teman-teman kuliahku. Kenapa dia meninggalkan begitu saja..?

Sedih.

Mungkin aku tidak sebaik orang-orang Jepang itu. Aku tidak pernah memberi temanku sesuatu hadiah. Aku tidak menemani dan mengisi hari-harinya. Tapi rasa kehilangan temanku atas orang-orang Jepang itu...? Apakah lebih menyenangkan bergalau-galau mengingat memori bersama mereka daripada bertemu dengan teman-teman kuliah--teman lama?

Aku...

Kesal?

Aku kesal. Ya. Kuharap bukan karena iri. Aku kesal karena merasa pertemananku dengan temanku itu sudah merenggang. Aku kesal melihat temanku menulis perasaan sedihnya dan mengeshare lagu-lagu galau. Aku kesal betapa temanku mengaku tidak galau tapi menjauh dan menyendiri.

Aku kesal. Aku seperti tidak mengenal temanku lagi. Kenapa aku merasa seperti ini? Aku yakin aku tidak iri dengan temanku.

Atau aku iri karena aku tidak diperlakukan seperti Yama dan Kana? Aku kesal karena tidak bisa memberikan perhatian terbaik untuk temanku?

Ini memusingkan.



Sunday, July 28, 2013

Pertanyaan Serius


Gimana sih cara ningkatin stamina diri?

Selama ini aku kalo begadang, entah itu ngerjain tugas atau cuma sekedar ga bisa tidur, hampir bisa dipastikan klo paginya pasti meriang. Sering banget klo begadang, trus pas subuh ambil wudhu, brrrrrrrr pasca wudhu pasti langsung meriang.

Tapi pernah juga..pagi-paginya fine-fine aja. Eh pas jam sepuluh meriang -__-

Ujung-ujungnya kalo udah meriang pasti ngeringkel selimutan di kasur. Trus ketiduran. Melupakan segala agenda yang harusnya dilakukan. Dan endingnya selalu minta maaf ga bisa hadir. Minta maafnya juga udah telat. Huuuu

Selain pesoalan meriang, aku juga gampang banget capek. Ada kegiatan dari pagi sampe ashar. maka pasti begitu pulang dan nyampe rumah, aku langsung tepar dan tidur. Ga kuat menyiapkan apa-apa yang dibutuhkan untuk aktivitas besoknya. Duh gimana kalo aku udah kerja ya??

That's why kalau bisa dari sekarang ini aku mau meningkatkan stamina...

Apakah bisa dicapai dengan rajin olahraga?

Minum vitamin?

Hmmm..

Cari di google ada kali ya..

FYI sekarang aja ini aku kedinginan..bekas meriang tadi pagi..hiks..ga mau lepas dari kasur karena begitu buka selimut dan kena angin/udara, woooooosh langsung gemeletukan lagi. Huft!



Saturday, July 27, 2013

Overslept! (Oh God why?)


Aku membuka mata. Mengerjap beberapa kali. Dan mengingat-ingat sebentar.

Hari ini hari sabtu. Hari ini syuro di masjid Nurul Iman.

Syuro?!

Badanku otomatis terduduk dari baringnya. Jam? 09:15. Astaghfirullah! Aku mencari-cari handphone untuk sekedar mengecek kabar anggota syuro lainnya.

Whatsapp dari Kak Annisa: "Teman2.... minta maaf hari ini baru bisa ke Nuri jam 10 ternyata"

Dari Kak Dian: "Sama, kak.."

Ah..ternyata yang lain juga belum bisa hadir di Mesjid Nurul Iman (Nuri) pada pukul sembilan. Ga cuma aku yang telat. Tapi tunggu..Kak Aji? Jangan-jangan dia udah di Nuri sebelum jam sembilan?

"Aduh..kalau aku mandi sekarang..lalalalalala pasti selesai jam sepuluh..perjalanan satu jam..nyampe jam 11..siang banget! Yang ada, pas aku dateng juga udah selesai syuronya. Duh..." Aku menimbang-nimbang apakah sebaiknya pergi syuro atau tidak.

Menatap layar handphone. Menimbang dan berulang kali membaca pesan dari Kak Dian. Kak Dian melaporkan keterlambatannya pada jam 09:07. Sekarang jam 09:17. Aku harus bilang apa?

"Kak..aku juga dateng telat..ada urusan mendadak dan ga sadar udah jam segini aja.."

Menghapus ketikan dan batal mengirim pesan. Bukan alasan yang bagus. Itu bohong namanya.

"Kak..aku dateng terlambat juga sepertinya"

Terus? Baru lapor jam segitu..syuronya mulai jam 09:00

"Kakak-kakak..mohon maaf..saya ketiduran dan baru bangun. Jadi akan telat juga"

Send. Biarlah kalau reputasiku jadi minus di mata kakak-kakak yang kuhormati dan kusegani. Ketiduran habis subuh? Biarlah. Apapun reaksi mereka, yang terpenting adalah sekarang aku harus segera mandi.

Keluar kamar. Jam 09:20

"Aaaah aku harusnya jam sembilan udah di Masjid daerah pondok bambu. Malah baru mandi sekarang!" Asal ngedumel sambil bawa-bawa handuk dan pakaian, menuju kamar mandi.

"Lah kamu papa bangunin katanya acara hari ini cuma buka bersama temen nanti sore?" Papa nyeletuk. Aku mendelik, emang tadi papa bangunin? Ga ngerasa ah.

* * * * *

Jam 10:15. Mencangklongkan tas, salim dan pamit pada mama (papa sedang Dhuha saat itu), dan melangkahkan kaki keluar rumah.

Ya ALLAH, jalanan jangan macet, please T__T

* * * * *

Suasana hati mulai memburuk. Sangat buruk malah. Teringat kakakku yang menulis status update di Facebooknya kemarin: "I curse Jakarta's traffic". Well..now I also want to curse Bekasi's traffic.

Angkot 02 yang kutumpangi tidak kunjung maju. Mencoba bersabar, dan berpikir bahwa penyebab segala kemacetan ini adalah maraknya area perbelanjaan di rute perjalanan jalur Bekasi-Pondok Gede. Lihat saja, tak jauh dari depan komplek rumahku ada Alfa Midi. Beberapa meter kemudian ada Superindo. Setelahnya, komplek perumahan Duta yang terkenal sebagai salah satu pusat jajanan pasar. Sekian meter dari Duta, ada Tiptop. Setelah Tiptop, perjalanan akan menuju Mall Pondok Gede yang diapit oleh pasar (yang mengambil setengah ruas jalan). Jika tiap pengendara mobil atau motor memiliki keinginan yang sama yaitu berbelanja, sudah pasti semua melewati jalan ini kan? Aku langsung mengasihani diriku sendiri yang harus sabar melewati macet yang--mungkin--ditimbulkan oleh orang-orang yang ke Superindo atau Tiptop. Resiko jika mau menuju Pondok Gede.

* * * * *

Pukul 11:23. Duduk dengan cemas, gelisah, mulut cemberut dan mata mengernyit di angkot K22. Lapangan Pondok Gede.

Tujuan awalku memang syuro. Tapi melihat kondisi saat ini (angkot K22 ngetem), rasa-rasanya tujuanku ke Mesjid Nurul Iman sekarang adalah numpang shalat Dzuhur. Titik.

Pukul 11:48. Mata menatap lurus. Ekspresi datar. Mulut tertutup rapat.

Angkot K22 baru melewati Jatiwaringin. No hope buat sekedar shalat Dzuhur tepat waktu. Apalagi ternyata macet kembali menghadang di Pangkalan Jati. Dan siapa yang menduga? Supirnya mencari alur alternatif lain untuk menghindari macet. Begitu tau hal itu, kekesalanku memudar dan berganti menjadi panik. Aku buta arah, kemana supir ini akan membawa--aku--penumpangnya? Yang ku tahu, sang supir meyakinkanku kalau angkot ini akan tetap melewati pondok bambu. Baiklah.

Tidak lama dari berputar baliknya angkot, supir tiba-tiba berkata pada mas-mas yang duduk di kursi depan, yang di sebelah supir. "Mas, saya agak lupa jalan nih. Habis ini kemana ya?"

ASTAGHFIRULLAH

Rasanya emosi dalam diri ini udah meluap-luap. Apalagi sepanjang perjalanan di rute alternatif itu, supir berulang kali berkata "Rute ini malah makin jauh ya? Harusnya tadi biarin aja macet", "Ini belok kiri tadi bisa ya?", "Kalau lurus bisa tembus Duren Sawit,". Meracau sendiri ia. Dan aku semakin lemas dan kesal.

Akhirnya penumpang kursi depan mengarahkan supir untuk belok kiri jika tidak mau terlalu jauh berjarak dengan Pondok Bambu.

* * * * *

Pukul 12:22. Masjid Al-Anwar Pondok Bambu.

Syukurlah angkot K22 melewati Jalan Kejaksaan. Aku bisa turun di Masjid Al-Anwar dan menunaikan shalat Dzuhur disana. Mengambil wudhu, shalat, dan tilawah sebagai pelepas penat dan penenang hati. Ketika tilawah, aku menangis karena merasa kelelahan menghadapi macet dan kesal karena pagi ini kesiangan bangun. Akhirnya terbata-bata antara melantunkan ayatNya dengan menangis, namun setelah empat 'ain aku pun menjadi tenang. Alhamdulillah.

"Nui..syuronya udahaaan. Kamu dimana? Huhuhu"

Whatsapp dari Kak Dian. Aku menjawab bahwa aku sedang di Al-Anwar, dan berpamitan izin pulang.

Hasil syuro? Kak Aji akan share. Lebih baik menunggu. Kekecewaan pada diri sendiri mengurungkan niatku untuk bertanya hasil syuro dan berkomunikasi dengan anggota MS lainnya. Malu. Merasa bersalah. Merasa ga bertanggung jawab.

Akhirnya aku pulang dengan perasaan yang lebih tenang, walaupun kecewa itu masih ada.

* * * * *

Penasaran.

Hasil syuro tadi itu bagaimana?

Notifikasi whatsapp berbunyi. Dari Kak Daus.

"Mohon maaf kawan...Kalau berangkat sekarang apa syuronya masih jalan?"

Kak Annisa: "Udah selesai dari Zuhur tadi"

Pukul 15:06. Tak ada bahasan lanjutan. Oke. lebih baik menunggu.

.....

Ding!

Notifikasi Whatsapp berdentang pada pukul 17:23. Dari Kak Daus. Bertanya apakah hasil syuronya sudah menentukan ketua Alumni Rohis terpilih atau perlu ada syuro lanjutan. Tapi dialog terhenti disitu.

.....

Ding!

Kali ini dari Kak Aji pada pukul 17:52 . Mem-forward kabar dari Mesir sana. Tentang Jenderal Sisi dan rezim militernya yang mulai membantai rakyat. Tentang RS yang mengatakan angkat tangan dengan banyaknya jumlah korban. RS yang tak punya alat bedah dan pasokan darah. Ditutup dengan pesan ukhuwah agar menyelamatkan umat Islam di Mesir. Doa terkirim untuk bersatunya umat Islam di Mesir.

Doa terkirim untukmu, syuhada Mesir. Semoga dunia Internasional tidak kembali membisu dalam peristiwa ini. Aamiin.

* * * * *

Pukul 19:24

Penasaran. Bagaimana hasil yang didapat dari syuro siang tadi?

Menunggu. Sungkan bertanya. Terdiam. Pening.

Syuro tadi tidak diikuti olehku dan Kak Daus. Dan Kak Annisa bilang hasilnya akan di share oleh Kak Aji. Tapi mana...??

.....

.....

Lebih baik menunggu sampai ada yang angkat bicara.




D'oh. I'm such a coward



Monday, July 8, 2013

Virus Merah Jambu


Ya, aku kena virus ini sekarang.

Tapi kenapa virus merah jambu (yang biasa disingkat jadi VMJ) kadang suka "membenarkan" kejadian yang biasa-biasa saja menjadi kejadian luar biasa spesial bagi kita?

Ini. sangat. mengganggu.

* * * * *

Oke, dalam postingan kali ini, ijinkan aku mengutip kata-kata dari postingan salah satu sahabatku yang berjudul 'Jadilah Teman yang Baik':

"Tidak maukah kita?
Menjadi pribadi yang hanya dengan mengobrol dengan kita,

seseorang ingat dengan sholatnya yang belum sempurna.
Hanya dengan bertemu kita,
seseorang ingat belum menyisihkan uangnya untuk berinfaq.
Hanya dengan menyapa kita,
seseorang ingat telah tidak ramah dengan ibunya.
Dan hanya dengan mendengar kabar tentang kita,
seseorang jadi terpacu untuk berprestasi lagi,
karena melihat kebaikan yang terpancar dari diri kita."

Kutipan ini sangat memacu semangatku dalam memacu diri agar lebih baik lagi dan menjadi teman yang baik sebagaimana dideskripsikan di atas.
[makasih ya sahabatku atas postingan barunya (-^v^-) semoga kita dan teman-teman halaqah bisa menjadi pribadi yang memancarkan kebaikan. aamiin]

TAPI karena lagi terkena VMJ..akhirnya malah kepikiran si oknum yang bikin aku kena virus itu .__.
*haduuuuuuh

Kenapa bisa begitu?

Karena begitu membaca kutipan di atas pada postingan aslinya, pribadi yang membuatku mengingat shalatku yang belum sempurna dan segala amalan ibadahku yang masih kacau-balau hanya ketika berinteraksi dengannya, justru pertama kali kutemukan pada sosok seorang ikhwan senior.

Bukan. bukan berarti bahwa tidak ada akhwat yang berkriteria sebagaimana disebutkan dalam kutipan di atas. Justru banyak banget teman-teman akhwat yang aku kagumi dan bikin aku ngerasa bahwa "aku harus mengejar level mereka". Tapi hanya pada ikhwan yang satu itu yang bikin aku ngerasa kayak di hisab di dunia. Berasa inget semua dosa dan mau taubat berkali-kali...

Lebay, yeah? but that's what I feel.

[padahal aku ga tau tuh kayak apa rasanya di hisab. eh malah sok-sok pake analogi begitu.. astaghfirullahalazhim! :(]

Ya..intinya..
aku kagum sama ikhwan itu. Kagum akan prestasinya yang menurutku luar biasa.

Dan BAHAYAnya adalah, rasa kagum itu perlahan terjangkiti virus merah jambu hanya karena parasnya yang mirip dengan...



Nouman Ali Khan.
Shaikh favoritku.

(yang nebak kalo parasnya mirip sama mantan saya, boyband korea, aktor ganteng lokal maupun internasional, atau siapapun, tet-tooot kamu salah tebak :p)

*sigh*
[menghela nafas panjang]

Ya ALLAH..semoga bulan ramadhan tahun ini bisa menjadi bulan pembentuk habits-habits positif yang udah aku rencanakan. aamiin allahumma aamiin...



Sunday, June 16, 2013

Ragu


"Love you all~ ^^"


* * * * *

Jika itu terucap dan disampaikan oleh orang yang kau sayangi dalam diam dan tunggumu,
dan tentu saja bukan ditujukan untukmu,
apa yang kau rasa?

Jika itu terucap dan disampaikan oleh lelaki yang kau harap-harapkan,
dan tentu saja ia tak pernah tahu apa yang kau rasa,
akankah sakit terasa?

pantaskah ia, yang kau tunggu dalam diam dan doamu,
menjadi yang kau harapkan?

tak sedarah, tak sekerabat,
tapi ada cinta dalam bentuk kasat mata di hatinya dan hati mereka
tak sungkan untuk diucap

apakah cinta dalam ukhuwah,
harus terucap antara pemuda dan belia?
atau batas itu tak terasa ada?



Wednesday, June 5, 2013

Look Who's Talking


Saat itu aku sedang menonton sinetron Tukang Bubur Naik Haji bersama kedua orangtua

*untuk memahami percakapan di bawah ini, harus mengerti jalan cerita dalam sinetron tersebut hehe*

Mama:
"Ih, si Nafisa. Masih aja perhatian sama Restu. Udah jelas dia cowok ga baik, masih aja demen sama dia. Kan udah di khitbah sama Fauzi, ngapain mikirin Restu lagi. Pake dateng-dateng ke penjara segala."

Aku:
"Engga, Ma. Nafisa sayang sama Fauzi tapi pasti dia masih simpatik sama Restu. Kasian kan dibalik jeruji sel penjara. Kasian Restu ga punya siapa-siapa..jadi pasti Nafisa simpatik trus timbul rasa peduli sama Restu lagi."

Papa:
"Yang jelas, cinta pertama susah padamnya. Kayak kamu tuh, sama si *****. Coba, gimana cinta kamu ke dia?"

Aku:
"*terhenyak*......belom padam sih (jawab sambil ketawa miris).  Ah tapi kan udah tiga tahun! Aku juga heran ini gimana bisa move on nyaaaaaaa"

Dan semua kembali fokus ke sinetron tersebut

* * * * *

Huft.

Kenapa ya papa sama mama, walau ga pernah ngobrolin langsung atau nanya langsung ke aku, bisa langsung dengan gampangnya nyindir aku sama mantan yang sekaligus cinta pertama aku itu?

Kayak waktu itu..dua bulan yang lalu kalau ga salah.
Lagi pulang belanja dari Superindo, mama tiba-tiba nanya "gimana si *****? udah kerja dimana dia sekarang?"
Dan dengan polosnya aku menjawab kalo dia lagi training untuk B** Syariah

Entah kenapa kayaknya orangtuaku bisa nyadar kalau aku sebenernya masih blom bisa move on dari sang mantan .__.

dan yang parahnya, aku sendiri masih belom bisa membuka hati untuk deket sama cowok lain. Ketemu cowok aja udah ngeri. Gimana mau dapet jodoh??



Monday, May 20, 2013

Kenapa saya galau..


Habis membaca artikel dari muslimah.or.id di sini, dan menemukan beberapa kalimat yang terasa #jleb buat aku...

* * * * *

لاَ حَسَدَ إِلَّا عَلَى اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الكِتَابَ، وَقَامَ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ، وَرَجُلٌ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَالًا، فَهُوَ يَتَصَدَّقُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ
“Tidak ada iri kecuali untuk dua jenis manusia: Seorang yang Allah berikan kepadanya Al Qur-an (hafal Al Qur-an), membacanya ketika shalat di waktu malam dan di waktu siang, dan yang kedua adalah seorang yang Allah berikan padanya harta yang melimpah, lalu dia membelanjakannya dalam ketaatan baik di waktu malam maupun di waktu siang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ya..aku iri kepada mereka yang hidup dalam ketaatan pada ALLAH..
karena aku tidak--belum--bisa menanamkan ayat Al-Qur'an dalam setiap lisan, pikiran, dan hati..
belum spenuhnya bergantung kepada ALLAH..
belum sepenuhnya yakin bahwa pertolongan ALLAH itu dekat..
belum maksimal menyalurkan dan membelanjakan rezeki yg kupunya..

Kapan aku bisa memanifestasikan hadits yang mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat?

* * * * *

إنما يعطى الرجل على قدر نيته
“Seseorang diberi sesuai kualitas niatnya.”

Bagaimana cara meluruskan niat dan menjaga niat mencari keridhaan ALLAH?

* * * * *


فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ( ) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ
“Maka apabila kamu telah selesai (dalam suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. Dan hanya kepada Rabb-mu lah hendaknya kamu berharap.”(QS. Al-Insyirah: 7-8).

....akhir-akhir ini aku malah keasikan bersantai-santai,,
padahal ada prioritas yang aku harus kerjakan..
sesuatu yang bernama SKRIPSI
Ah.. :((

* * * * *

“Ibadahnya orang yang lalai itu bernilai rutinitas, dan rutinitas orang yang berjaga (dari lalai) itu bernilai ibadah.” (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Dar Ats-Tsuraya, th. 1424 H. hal. 13)

Aku sadar kalau aku termasuk orang yang lalai. Apakah mutlak bahwa ibadahku hanya bernilai rutinitas? Tanpa adanya jiwa yang mengharap ridhaNya dan bersyukur padaNya? Adakah rutinitasku bernilai ibadah? Wallahu a'lam. Yang kutau, amat tipis dan sulit membedakan lalai yang beribadah secara rutin, atau rutin yang paham beribadah..

* * * * *

Bersungguh-sungguh dalam beramal shalih serta memurnikannya untuk mengharap wajah Allah semata, baik berupa amalan hati, lisan, maupun anggota badan.

Bismillah..insya ALLAH..aamiin
*BRB galau dulu :(



Friday, May 10, 2013

Semua Terangkum Jadi Satu


Kemarin malam, sebelum tidur, aku iseng bermain-main di Google Maps
Mencari tau Kobe Mosque dan Kobe University
Mencari rute arah perjalanan dari Mosque ke University
dan tak lupa menempatkan posisi diri di depan kedua gedung untuk melihat secara real


Kobe Mosque. Mesjid pertama di Jepang

Zoom Gerbang Kobe Mosque

Gerbang Masuk Kobe University

Gerbang Masuk Kobe University (mungkin untuk pejalan kaki?)

Kalo dipikir-pikir, niat banget aku nyari tau ampe segitunya hehe

Dan info untuk perjalanan dari Kobe Mosque ke University, katanya sih jaraknya sekitar setengah jam
- 10 menit jalan kaki ke stasiun Sannomiya
- Naik kereta jalur Hankyu-Kobe (dari stasiun Sannomiya ke stasiun Rokko. cuma 7 menit :O)
- Jalan kaki 1 menit ke Halte-Bus-entahlah-apa-namanya dan naik Bus 36 (kayaknya hahaha)
- trus perjalanan busnya 6 menit saja, dan lanjut jalan kaki 1 menit lagi untuk sampai ke Kobe University

Atau ada juga yang 41 menit katanya
- Jalan kaki 12 menit ke stasiun Motomachi
- Naik kereta jalur Tokaido-Sanyo (dari stasiun Motomachi ke stasiun Rokkomichi 7 menit)
- Jalan kaki 1 menit ke Halte-Bus-entahlah-apa-namanya dan naik Bus 36
- trus perjalanan busnya 12 menit, dan lanjut jalan kaki 1 menit ke Kobe University
*mungkin karena Rokkomichi lebih jauh dari Rokko, jadi walopun naik busnya sama, jaraknya lebih jauh
*sebenernya enakan tanya ama orang Jepang langsung daripada sotoy liat di gugel hahahhaa

Ah..pengen kesana..

* * * * *

Pagi ini, aku agak kaget karena terbangun dari mimpi
Mimpinya...mimpi menikah...dengan juniorku yang baru saja aku kenal sebulan yang lalu!
Padahal jarang ngobrol .__.
Yadda yadda -__-a

* * * * *

Kejadian menyebalkan hari ini, ada anak yang kurang peduli sama orangtua
Gimana ngasih taunya ya.. *sigh*

* * * * *

Aku lagi males nulis dan ngantuk pula..
So..I'll end today's post just like this,,



Saturday, May 4, 2013

Menzhalimi Diri Sendiri


Saat ini, aku mengetik sambil sesekali meneguk kopi yang baru saja kubuat
Jam menunjukkan pukul 01:27 AM

* * * * *

Pikiranku melayang pada kegiatanku hari kemarin
Kegiatan? Rasa-rasanya hanya diisi dengan tidur saja?
Kubuka catatan Mutabaah Yaumiyah di binderku
Astaghfirullah..lima amalan targetku terlewatkan

Buku agenda harianku?
Agenda hari kemarin belum kuevaluasi
Agenda hari mendatang belum kucatat
Singkat cerita, memang buku itu kubiarkan begitu saja

* * * * *

"Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang; jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya" (HR At-Tirmidzi)

* * * * *

Ya, kemarin kuakui memang aku menzhalimi diri sendiri

Di pagi hari, hanya karena kelelahan berolahraga, aku melewatkan dhuha karena tertidur
Di siang hari, aku tidak makan siang dan menjadi lemas, sehingga mengakhirkan zuhur
Di sore hari, sendiri di rumah, aku terjaga dalam diam. Terbaring tanpa aktivitas
Di malam hari, aku terlena dan terbuai dengan hiburan duniawi. Dan berujung pada sulitnya tidur

Aku menzhalimi diri dengan menyia-nyiakan waktu
Berlama-lama dalam aktivitas yang tak bermanfaat
Membiarkan tubuh tidak mendapatkan haknya

Padahal sebelum aku olahraga di pagi hari, aku baru saja membaca sebuah artikel,
yang kalau diingat sangat membuatku malu. malu. malu. malu. malu.
kenapa aku baru ingat sekarang? sungguh, menyesal itu selalu datang belakangan


Khilaf. Lalai. Merugi.
Setelah membaca artikel itu, aku malah berakrab-akrab dengan yang tak manfaat.

* * * * *

Pukul 02:12
Kopiku sudah habis 15 menit yang lalu.
Akankah aku tertidur dan mendapat kesempatan merubah kelalaianku di pagi hari nanti?
Atau tetap terjaga dalam penyesalan dan rendahnya stamina beribadah di sepertiga malam?



Wednesday, May 1, 2013

Can't Imagine It, Can you?


Ini lanjutan dari postinganku yang berjudul "Ga Semudah Itu, Bang..."

* * * * *

"Nui, sebenernya ada yang mau gw kasih tau tentang oknum K"

"Oya? Apa?" | *deg-degan*

"Waktu itu dia bilang kan mau nyari pacar orang Indonesia?"

"He'eh. Terus?" | *masih deg-degan*

"Kemarin gw denger..ada yang nanya ke oknum K..apa bener dia serius mau nyari pacar orang Indonesia. Terus lo tau ga si oknum K bilang apa?"

"Apa?" | *kayaknya ada yang aneh nih*

"Intinya kalo kata teman kita--oknum Y--, oknum K kira-kira bilang, 'I can't imagine marrying a Muslim girl'"

"........" | *speechless*

"Rasanya mau bilang di mukanya oknum K, 'emang kenapa kalo cewe Muslim? masalah buat lo?!'"

"........" | *mencerna info yang barusan kudengar*

"Itulah Nui kenapa gw ngerasa ternyata oknum K ga sebaik yang dibilang temen-temen kita dari Jepang"

"........" | *oh..jadi gitu toh*

"Kemaren-kemaren aja dia bilangnya mau nyari pacar orang Indonesia. Eeeeeh sekarang malah can't imagine marrying a Muslim girl. Gw sebagai cewe Indonesia yang Muslim berasa diinjek-injek. Emang salah kalo agama gw Islam?"

"Iya ya..." | *well, I actually expected something like this to happen. It must have been hard for him to understand and follow Islamic teachings*

"Gw jadi ga respect sama dia. Ngapain pake bilang mau nyari pacar orang Indonesia klo ujung-ujungnya tetep sama nihon-jin?!"

"Yah...sebenernya bisa aja kok sama orang Indonesia. Yang bukan Islam"

"Oiya juga ya.."

* * * * *

In the end, you cannot imagine marrying a Muslim girl, huh. One question remains in my mind: why you said Muslim girl instead of Indonesian girl? Is it because you have fallen for a Muslim girl? Or is it because the majority in Indonesia are Muslims so you generalize that Indonesian people are all Muslim?

Whichever your reason is, I understand if you cannot imagine marrying a Muslim girl. Even I cannot imagine you marrying a Muslim girl. I cannot imagine you revert to Islam. I cannot imagine you to stop drinking alcohol/beer/sake. I can't even imagine you do the prayer and prostate to ALLAH.

Okay, sorry, my bad. I should not judge you by my emotions. After all, you're a good guy in my eyes--except for being a drunkard :p--because you're...just...kind. just because. you're kind. period. 

ALLAH maha membolak-balikkan hati. Dan hidayah adalah hak prerogatif ALLAH. Walaupun aku ga bisa bayangin si oknum K akhirnya memeluk Islam, tapi kalau ALLAH berkehendak, siapa yang bisa melarang? :)



Monday, April 22, 2013

There Must Be Something Wrong


Udah diniatin puasa, ngelewatin waktu sahur
Udah diniatin tahajud, ngelewatin waktu tahajud dan udah keburu shubuh

Salah sendiri tidur kemaleman dan ga pasang alarm
Salah sendiri malem-malem malah minum kopi

Jam 03:00
Denger alarm hape, dimatiin, ga bangun
Jam 03:30
Denger alarm hape lagi, dimatiin, masih ngantuk
Jam 04:45
Denger alarm, udah shubuh

Niat tapi ga ikhtiar
*getok kepala, cubit pipi
.__.



Tuesday, April 16, 2013

Ga semudah itu, Bang...


Menikahi gadis Indonesia beragama Islam,
bukan hanya menahan diri untuk tidak makan daging babi
bukan hanya menahan diri untuk tidak mengkonsumsi alkohol
dan bukan hanya sanggup menghormati aktivitas keagamaan di depan keluarga besar


* * * * *

"Saya tidak apa-apa tidak makan daging babi sampai saya mati nanti."
"Tapi pasti sedih tidak bisa makan daging babi?"
"Yaa..mungkin kalau terpaksa, saya makan tapi tidak di depan keluarga..."

dan aku sudah tak fokus menyimak diskusi mereka hari ini...

Menikah itu tahunan. puluhan tahun bahkan...
Dan aku yakin kalau dia berpikir pendek..
Karena cepat sekali mengatakan bahwa tidak apa-apa ia menikahi gadis Indonesia beragama Islam..
Dengan konsekuensi ia kembali kepada Islam..
Belum tahu kah ia mengenai ketaqwaan untuk menjalani segala perintahNya..
Apalagi keimanan untuk menjauhi segala laranganNya..

* * * * *

Tapi, respect itu tetap ada untuknya
yang seringkali berjanji dengan "Insya ALLAH"
dan bergembira dengan "Alhamdulillah"

Kata yang terucap tak selalu sarat makna...


Wednesday, April 3, 2013

Penyesalan dan "Seandainya.."


Kita sudah berjalan masing-masing
Dan sudah pula kuhindari dirimu dari jejaring sosial dunia maya
Tapi ternyata dunia tidak berputar antara kau dan aku saja

* * * * *

Pagi ini, salah satu temanku--sebut saja A--memiliki update baru di facebook:

"A shared B's photo"

Otomatis aku pun bertanya-tanya. Hmm. Foto apa ya?? Penasaran hehe

Dan tampaklah foto temanku itu dalam album berjudul "Dokumentasi _____" (nama dirahasiakan)

Deg!

* * * * *

____ adalah salah satu mata kuliah wajib fakultas yang sempat kuambil pada semester lima. Ya, "sempat" kuambil, bukan "pernah". Aku waktu itu melepaskan mata kuliah itu di tengah semester karena adanya latihan untuk pementasan yang--menurut teman-teman lainnya--cukup melelahkan karena sebelum latihan dimulai mereka harus pemanasan (lari menglilingi gedung kuliah sebanyak 7x putaran). Tak hanya itu, latihan dimulai ba'da maghrib dan selesai sekitar jam 10-12 malam.

Bukan hal menyenangkan bagiku yang tak pernah olahraga, terlebih lagi pulang malam.

Sehingga itulah alasanku untuk drop mata kuliah tersebut, setelah (1) hari pertama latihan aku tidak hadir, dan (2) setelah mendengar pengalaman teman-temanku yang merasakan lelahnya pemanasan di hari itu.

Tapi ada yang tidak diketahui oleh kebanyakan teman-temanku yang mengira hanya itulah alasanku drop mata kuliah tersebut.

* * * * *

Ada semacam persuasi dan kekhawatiran berlebihan darinya ketika ia memintaku untuk drop mata kuliah tersebut. Ini diutarakan setelah latihan kedua--yang lagi-lagi aku tak hadir--, setelah adanya insiden latihan acting dadakan dan pemerannya ditunjuk secara random oleh dosenku. Sebenarnya alasan persuasi darinya tidak bisa kuterima dengan nurani dan akalku, apalagi ketika ia berkata:

"kalau kamu mau ikut latihan, capek-capek, dan pulang malem gak papa. Tapi tolong, kamu pake sarung tangan ya. Jadi kalau dosen secara iseng dan gak sengaja nunjuk kamu untuk coba acting berpasangan sama cowo, aku ga khawatir" 

Kurang lebih seperti itulah ia berkata. Aku tau, aku sudah mencoba mengganti memori yang tak menyenangkan dengannya, jadi aku tidak bisa ingat persis apa yang ia katakan. Yang paling kuingat, ia memintaku memakai sarung tangan karena tak mau melihatku bersentuhan dengan lelaki lain.

Halo? Harus pakai sarung tangan? Kenapa? Ga mau liat aku berpasasangan latihan acting sama cowo? Kenapa? Se-ekstrim itukah rasa cemburunya?

Itulah yang terlintas di benakku saat itu. Kemudian ia pun menyarankan beberapa alasan yang bisa kupakai untuk drop mata kuliah tersebut. Yang berujung pada kenyataan bahwa aku tidak meneruskan mata kuliah tersebut....bersama salah satu sahabatku yang juga tak bisa pulang malam. Alhamdulillah nemu temen yang mau ngurus drop mata kuliah ini juga :'), pikirku saat itu.

* * * * *

Aku mencoba ikhlas. Toh ada benarnya juga bahwa aku memang keberatan pulang malam dan khawatir badan ini remuk-remuk jika seminggu dua kali disuruh lari tujuh putaran.

Aku mencoba ikhlas. Setiap latihan ia pulang malam, dan ternyata ia menjadi salah satu pemeran dalam pementasan itu. Dengan konsekuensi ia akan dirias dengan make-up agar terlihat seperti orang tua (kakek-kakek). Ia dirias oleh teman-teman perempuan, tentu saja.

Aku mencoba ikhlas. Ketika ia memutuskan untuk mengajakku melihatnya latihan tetapi aku sendirian dalam ruangan ramai itu. Aku sudah drop mata kulaih tersebut, toh. Rasanya kurang sreg, ketika belum drop tak pernah datang latihan, tapi ketika sudah drop malah datang...

Aku mencoba ikhlas. Ketika akhirnya kami ribut karena aku jujur padanya akan penyesalanku yang telah drop mata kuliah tersebut, yang membuat kami putus. Aku tau aku salah. Tak seharusnya aku menyalahkannya atas keputusan yang telah kuambil.

Aku mencoba ikhlas. Ketika ia terfoto dalam dokumentasi, sementara aku kembali menguatkan diriku bahwa aku beruntung bisa mendapat waktu tambahan untuk mata kuliahku yang lainnya.

Aku mencoba ikhlas. Ketika akhirnya ia dekat dengan gadis dari fakultas tetangga. Ketika gadis tersebut kudengar selalu menemaninya latihan.

Aku mencoba ikhlas. Ketika di jeda jadwal kuliah, aku mendatangi tempat dimana teman-temanku berkumpul, dan ia disana bersama gadis dari fakultas tetangga itu.

Aku mencoba ikhlas. Ketika aku dan dua orang sahabatku mengobrol di tempat biasa, si gadis dari fakultas tetangga itu duduk sendirian tak jauh dari tempat kami dan bergumam bahwa orang yang ditunggunya tak kunjung datang. Si gadis itu pun kembali ceria dan bercerita banyak ketika ia, mantanku, datang.

Aku mencoba ikhlas. Ketika ia dan si gadis suatu hari jalan bersama, dan mereka berpapasan denganku. Kudengar si gadis bertanya lirih padanya, "yang ini?" ketika melewatiku. Dan tak lama, muncullah foto mereka berdua dalam foto dokumentasi salah satu temanku.

Aku mencoba ikhlas. Ketika akhirnya mereka berdua jadian.

Aku mencoba ikhlas. Ketika akhirnya aku vertigo dan absen kuliah selama seminggu.

Aku mencoba ikhlas. Ketika skripsiku sudah tertunda dua semester dan berpikir alangkah mudahnya jika aku tidak drop mata kuliah tersebut. Aku bisa lulus non-skrip. Seandainya saja...

Ah. Tapi aku tetap mencoba ikhlas ketika saat ini aku menulis kembali kisah yang lalu.

Hehe :D

* * * * *

Memang benar kata Murabbiku yang mengatakah bahwa ikhlas itu ada di awal, di tengah, dan di akhir. Ia berada di awal niatan kita, berada ketika kita tengah menjalankan niatan kita, dan berada ketika kita telah selesai menunaikan niatan kita.

Seharusnya, jika aku memutuskan drop mata kuliah tersebut dengan niatan ikhlas di awal atas pilihanku, maka ketika menjalaninya dan melihat sang mantan berkecimpung serius dalam latihan pementasan sudah semestinya pula aku ikhlas di tengah. Dengan demikian maka aku pun akan ikhlas di akhir, ikhlas yang seterusnya akan terasa setelah kejadian itu berlalu. Ya, sekarang ini harusnya aku pun ikhlas.

Maka pertanyaannya, ikhlas yang bagaimana?

Ikhlas yang kusebut-sebut dalam kisah di atas sepertinya hanyalah kerelaan untuk menerima keadaan, seperti  kerelaan melihat orang lain sukses, kerelaan melihat orang lain bahagia, kerelaan atas pilihan diri sendiri, dan kerelaan untuk tidak menyalahkan orang lain atas pilihan diri sendiri.

Padahal seharusnya ikhlas itu merelakan setiap tindakan yang dilakukan, dengan melibatkan ALLAH dan hanya ALLAH lah tujuannya... ikhlas lillahi ta'ala..
(maaf kalo salah ya. Ini definisi ngasal. Jangan dijadikan referensi yaa..)

Huuf.. *tarik nafas, buang nafas*

Yang berlalu biar berlalu. Yang buruk dijadikan pelajaran biar ga salah lagi. Sekarang, ikhlas lillahi ta'ala untuk memperbaiki masa depan dan memperbaiki kualitas diri :) Bukan karena pengaruh manusia, tapi karena ALLAH :D



Wednesday, March 27, 2013

Rindu...


Sudah tiga hari ini ga Qiyamul Lail. Tahajud dan Witir terlewatkan,
Dan hari ini bahkan Dhuha pun terlewat...

Lelah diri ini karena apa..?



Sunday, March 17, 2013

Harusnya...


For the time I've lost for committing sins
I should have stayed awake a lot more than anybody else
Repent and regret for all the mistakes and sins I've committed
By doing a lot more of righteous deeds and du'a
Asking for Your forgiveness

          For the time I've spent in following my lust
          I should have turn to You right away
          And promise myself not to be lustful anymore
          By strengthening my iiman and taqwa
          Becoming a true believers

                    But what have I done?
                    Why does it feels so hard to do what I should do?

* * *

By time,
Indeed, mankind is in loss,
Except for those who have believed and done righteous deeds and advised each other to truth and advised each other to patience
--Al-Asr (103): 1-3--

* * *

This is a beautiful music video from Maher Zain :')


Hear my prayer when I ask You to forgive me...



Saturday, March 16, 2013

This Morning, I Remember...



Apa yang tampak di depanku ketika bertemu denganmu?
Seorang teman yang biasa saja
Cenderung pendiam
Sedikit dingin

Apa yang kudengar tentangmu ketika dua minggu menuntut ilmu di Universitas ini?
"kau tahu, mukanya mirip denganmu loh. Jodoh tuh"
Aku mengamati
Apa iya?

Apa yang kualami ketika mengerjakan UAS kelompok pertamaku?
Pertemuan yang tak disengaja di sebuah rumah makan
Penyusunan tugas kelompok di rumahmu
Pertolongan penuh solusi darimu

Semua bermula dari situ

* * *

Entah bagaimana kejadiannya waktu itu
Aku mendengar kabar bahwa kau pernah mengikuti sebuah ujian masuk perguruan tinggi
Ujian yang pernah kuikuti juga
Benarkah? Rasa senang timbul dalam hati

Kucari kebenarannya melalui search engine
Dan akhirnya kulihat dengan jelas
Namamu memang terdaftar pada situs pengumuman kelulusan ujian tersebut

Kalau saja kau memilih kuliah di sana,
Aku takkan bertemu denganmu
Ya ALLAH, terima kasih
Engkau mempertemukan kami di Universitas ini, jurusan ini, dan kelas ini

Itu ucapan syukurku kala itu

Dan segala pengandai-andaian bermula dari situ

* * *

"Kalian kakak-beradik?"
Aku tercenung. Pertanyaan seniorku ini sangat lucu
Kujelaskan bahwa kami bukan saudara, apalagi kakak-beradik
"Ya ampun, soalnya muka kalian sangat mirip"

Seketika, hatiku dipenuhi guratan merah jambu

* * *

Waktu berjalan
Kami kian akrab, dan seringkali memiliki pemikiran yang sama
Keinginan yang sama
Hingga akhirnya perasaan yang sama

Siapa yang menyangka,
bahwa perubahan hidupku bermula dari situ

* * *

Aku tak mau mengingat apa yang terjadi
Bukan, lebih tepatnya, aku tak sanggup
Semua kenangan itu sudah susah payah kuganti
Jadi, tak usah berupaya untuk mencaritau yang sebenarnya

* * *

Jika memori memiliki foldernya sendiri-sendiri
Maka ada satu folder kenangan di kepalaku
Yang hingga saat ini tidak bisa kuhapus ataupun kuganti isinya

Folder itu bernama MO
Dan passwordnya adalah masa depan


Thursday, March 14, 2013

Eventhough It Hurts, I'll Make A Brand New Start


♫ I don't wanna cry
Please dry my eyes
I'm feeling down
Without you, I'm feeling down ♫

Saat itu jam sudah menunjukkan jam sebelas malam, tapi aku merasa tidak ada salahnya masih bernyanyi sesuka hati dalam kamarku. Lagipula, aku yakin suaraku tidak sebesar itu hingga bisa terdengar oleh tetangga. Aku juga sadar diri untuk tidak mengganggu orang tuaku yang sudah terlelap. Kamar mereka cukup jauh dari kamarku. Yang kukhawatirkan adalah, suaraku mengganggu waktu istirahat kakakku yang kelelahan mengajar hari ini. Kamarnya tepat bersebelahan dengan kamarku.

Ah, tapi dia juga sering kok menyanyi hingga jam dua pagi kalau lagi begadang. Gantian gapapa kan? Hehe

Lagu berjudul "Alone" yang dinyanyikan oleh girl group Korea bernama Sistar ini sudah cukup lama tak kudengar. Ada sedikit rasa kangen juga sih sama lagu ini. Entah kangen karena apanya. Yang jelas, aku mengingat bahwa lagu ini mewakili perasaanku yang seringkali merasa kesepian setelah putus dari..*ehm*..mantan. Padahal sudah nyaris tiga tahun berpisah, tapi rupanya memori bersamanya masih kuat saja menempel di ingatan.

* * *

Tunggu sebentar. Intro piano ini.

Hey, this is my story.
It's true.
Okay, listen.

Suara monolog penyanyi ini.

Ya ampun, kenapa aku lupa kalau aku memilih playlist yang berisi semua lagu Korea yang ada di hapeku? Biasanya aku memilih playlist yang hanya berisikan beberapa lagu bernada ceria untuk menemaniku mengerjakan tugas. Duh, aku jadi mendengar lagu ini lagi setelah empat bulan berhenti mendengarnya karena memberikan efek galau. Ckckckck.

Tapi tak bisa kupungkiri kalau lagu ini memang bagus. Lagu dari Rain (Bi/Jung Ji Hoon) yang berjudul "Love Story". Dinyanyikan dalam bahasa Inggris. Akhirnya lanjut dengerin lagunya, karena yaaa...memang bagus. Entah kenapa suara piano yang mengawali lagu ini selalu mengundangku untuk mendengarkan lagu ini sampai selesai. Apalagi suara Rain juga keren in my opinion. Tapi..lagu ini beresiko membangkitkan kenangan atas semua kejadian saat bersama mantan. Well, just stay calm.

* * *

Dan sampailah pada bagian dengan lirik galau pertama. Bagian reff.

♫ This song is a story of a true tragedy
I gave up my heart, I tried to give you all of me
We've come to the ending somehow, I don't know what to do
But I don't wanna forget now
I love you baby, I still love you
          This is the sound of honesty
          I gave up my heart, I tried to be all I could be
          My heart's gonna wait forever, I'm still holding on to
          All of our moments together
          I love you baby, I still love you ♫

Hmm. Oke. Bagian reff tidak berdampak apa-apa untukku yang sekarang. Alhamdulillah. Semoga di spot-spot lirik tertentu yang berikutnya juga ga mendatangkan kenangan yang udah berlalu.

♫ We were so much in love, tell me how could you forget
Wish you were here with me but memories are all I have left
It seems the promises that you made to me were nothing ♫

Ah. Bagian ini. Membuatku teringat akan sang mantan yang pernah berkata akan menikahiku. Berkata bersedia mengajariku agama (pada waktu itu aku belum menyadari pentingnya ilmu agama dan belum tertarik mempelajari agama secara benar). Yeah, right. Penyesalanku masih terasa karena percaya padanya dan janjinya. Kenyataannya kami berpisah, we've come to the ending somehow. Berpisah bukan karena kesadaranku saat ini akan cinta mulia dan propaganda JOSH (Jomblo Sampai Halal), melainkan berpisah dengan segala argumen dan...entahlah aku lupa. Yang kutau, dulu itu adalah pengalaman yang buruk; yang membuatku selalu digeluti rasa bersalah dan tertekan jika mencoba mengingatnya.

♫ Gotta close the door, just like you did before
See, my heart is broken baby
I can't do it no more
Even though it hurts, I'll make a brand new start
And lay to rest all the moments that played with my heart ♫

This is the solution offered within the song. Ya, walaupun rasanya sakit, aku harus bertekad dan harus mampu memulai awal yang baru untuk masa depanku. Meninggalkan semua kenangan indah yang takkan terulang lagi....kenangan dengan orang yang--sampai saat ini sepertinya--salah. Bukankah ada kutipan yang berkata "don't cheat on your future because of your past". Jangan mencurangi kehidupan masa depanmu dengan melihat masa lalumu. Jangan sampai menyerah untuk meraih masa depan yang lebih baik hanya karena masa lalumu yang buruk. Mungkin aku merasa sangat sakit hati dan ada sedikit trauma yang membuatku tidak bisa berinteraksi secara normal dengan lawan jenisku, tapi sedikit demi sedikit aku yakin aku bisa merasakan kembali jatuh cinta dan menyempurnakannya dalam pernikahan nanti. Aamiin

* * *

Wanna hear the song? You could listen to it here:


Or maybe you'd rather see Rain hits and kills someone in this 30-minute "Love Story" movie (eng sub)?





Enjoy :)

"Saat Anda menceritakan kejadian masa lalu yang buruk,
apakah perasaan Anda saat itu, masih ada dalam cerita Anda sekarang?

Jika ya, maka Anda termasuk yang mudah dilemahkan,
hanya dengan mengingat pengalaman buruk di masa lalu.

Berfokuslah pada kata-kata dalam bicara Anda, 
bukan pada perasaan dalam cerita Anda.


Latihan ini akan menjadikan Anda pribadi
yang lebih matang dalam menangani kejadian buruk."

(Mario Teguh)



Tuesday, March 12, 2013

Takut mubadzir tapi...


Tik.Tok.Tik.Tok. Detik jam terus berjalan. Aku membuka mata, bangkit dari tidur-tidur ayam yang sedari tadi kulakoni. Jam dua pagi.

Perutku mual dan kembung? Sepertinya masuk angin. Apa karena aku mandi jam sepuluh malam ya? 

Beruntung ada minyak kayu putih di meja dalam kamarku. Langsung ku oleskan tak tanggung-tanggung. Panas memang, tapi ini upaya agar kembung dan angin dalam perutku bisa keluar. Aku pun kembali meringsut ke kasur dan memeluk bantal. Eh..tapi..perutku tiba-tiba berontak! Akhirnya aku bergegas ke kamar mandi  dan membuang apa yang harus dibuang. Huh..membuat lemas saja jika yang dikeluarkan berupa diare.

Di kamar, aku oleskan lagi minyak kayu putih dan kembali menutupi perutku dengan bantal.

* * *

Pik. Mataku terbuka dan langsung tertuju ke arah jam dinding. Jam empat kurang lima belas menit. Sebentar lagi papa bangun dan shalat tahajud. Apa sekalian aku bikin teh aja ya..ngangetin perut.

Dan itulah yang kulakukan. Teh hitam rasa apel merk Walini dengan dua bungkus gula Tropicana Slim rasa lemon. Ditambah air hangat. Lumayan untuk meredakan mual-kembung dalam perut. Aku pun menyeruput teh dengan syahdu sambil merasakan sensasi hangat dalam perut. Haaaa leganya..

Kusisakan setengah gelas teh untuk kuminum lagi nanti. Aku kembali ke kamarku dan duduk-duduk manis sambil menunggu papa keluar kamarnya. Ceklek. Jam empat lewat lima belas, papa sudah kelar wudhu dan bersiap shalat tahajud di mushola kecil-kecilan yang ada dalam rumahku. Aku langsung keluar kamar dan mencegatnya.

"Pa, aku masa' mual-mual sama kembung. Malah sempet diare tadi. Kayaknya masuk angin deh", kataku sambil mengambil sisa teh yang sebelumnya aku minum.

"Lah? Mama juga kemaren malem buang-buang air terus. Emang makan apa sih semalem?"
Waduh? Mama juga diare? kayak-kayaknya.. "Kentang balado yang semalem nih kayaknya, Pa"
"Oiya itu kan pedes! Jadinya pada diare deh. Papa ga makan itu soalnya"

Sebenernya sih bukan karena pedesnya, Pa. Waktu mau dimakan udah agak bau tapi disuruh ditumis lagi biar bisa dimakan dan ga mubadzir. Abis dapet dari kantor mama kan tuh kentang ga langsung masuk kulkas dan dibiarin di meja makan hampir tiga jam...sayang dibuang, jadi coba ditumis lagi dan dimakan deh..

* * *

Teh yang setengah gelas sudah habis. Karena lagi ga shalat, aku duduk-duduk aja sambil mengelus-elus perutku yang makin ga enak rasanya. Mau balik ke kamar, tapi rasanya ada sesuatu yang salah. Dan tanpa sadar berjalan ke arah kamar mandi.

Dan bener aja. Aku muntah cukup banyak.

Tapi ada sedikit rasa lega sih habis ritual muntah itu. Perut sedikit plong dan ga begitu mual-kembung lagi hehe. Dengan senang hati aku pun kembali ke kamar dan berniat tidur lagi, tapi ternyata korban kedua dari kentang balado semalem juga mulai bergejolak perutnya. Mama minta tolong diambilin ember karena tiba-tiba mau muntah sebelum shalat shubuh. Huaaaaaaaa

* * *

Setelah situasi mulai stabil dan tenang, aku dan mama sedikit brainstorming. Ini adalah sebuah pelajaran, untuk jangan terbawa nafsu memakan makanan yang kita sukai ketika makanan itu sebenernya udah kurang layak dimakan. Ini murni kekhilafan, kenapa kentang baladonya ga langsung diangetin tapi dibiarin dalam bungkusan selama tiga jam lebih? Kenapa pas tau udah bau kentangnya tapi tetep mau dimakan? Aduh..serba salah deh..Pengennya ga mubadzir dan buang-buang makanan, tapi malah ceroboh dan bikin makanan jadi basi. Udah gitu maksa dimakan pula...

Semoga untuk selanjutnya aku dan keluarga lebih teliti dan ga membiarkan makanan yang cepet basi terlalu lama di meja makan. Maafkan aku ya ALLAH..karena akhirnya kentangnya dibuang dan jadi mubadzir juga huhuhuhu..