Aku membuka mata. Mengerjap beberapa kali. Dan mengingat-ingat sebentar.
Hari ini hari sabtu. Hari ini syuro di masjid Nurul Iman.
Syuro?!
Badanku otomatis terduduk dari baringnya. Jam? 09:15. Astaghfirullah! Aku mencari-cari handphone untuk sekedar mengecek kabar anggota syuro lainnya.
Whatsapp dari Kak Annisa: "Teman2.... minta maaf hari ini baru bisa ke Nuri jam 10 ternyata"
Dari Kak Dian: "Sama, kak.."
Ah..ternyata yang lain juga belum bisa hadir di Mesjid Nurul Iman (Nuri) pada pukul sembilan. Ga cuma aku yang telat. Tapi tunggu..Kak Aji? Jangan-jangan dia udah di Nuri sebelum jam sembilan?
"Aduh..kalau aku mandi sekarang..lalalalalala pasti selesai jam sepuluh..perjalanan satu jam..nyampe jam 11..siang banget! Yang ada, pas aku dateng juga udah selesai syuronya. Duh..." Aku menimbang-nimbang apakah sebaiknya pergi syuro atau tidak.
Menatap layar handphone. Menimbang dan berulang kali membaca pesan dari Kak Dian. Kak Dian melaporkan keterlambatannya pada jam 09:07. Sekarang jam 09:17. Aku harus bilang apa?
"Kak..aku juga dateng telat..ada urusan mendadak dan ga sadar udah jam segini aja.."
Menghapus ketikan dan batal mengirim pesan. Bukan alasan yang bagus. Itu bohong namanya.
"Kak..aku dateng terlambat juga sepertinya"
Terus? Baru lapor jam segitu..syuronya mulai jam 09:00
"Kakak-kakak..mohon maaf..saya ketiduran dan baru bangun. Jadi akan telat juga"
Send. Biarlah kalau reputasiku jadi minus di mata kakak-kakak yang kuhormati dan kusegani. Ketiduran habis subuh? Biarlah. Apapun reaksi mereka, yang terpenting adalah sekarang aku harus segera mandi.
Keluar kamar. Jam 09:20
"Aaaah aku harusnya jam sembilan udah di Masjid daerah pondok bambu. Malah baru mandi sekarang!" Asal ngedumel sambil bawa-bawa handuk dan pakaian, menuju kamar mandi.
"Lah kamu papa bangunin katanya acara hari ini cuma buka bersama temen nanti sore?" Papa nyeletuk. Aku mendelik, emang tadi papa bangunin? Ga ngerasa ah.
* * * * *
Jam 10:15. Mencangklongkan tas, salim dan pamit pada mama (papa sedang Dhuha saat itu), dan melangkahkan kaki keluar rumah.
Ya ALLAH, jalanan jangan macet, please T__T
* * * * *
Suasana hati mulai memburuk. Sangat buruk malah. Teringat kakakku yang menulis status update di Facebooknya kemarin: "I curse Jakarta's traffic". Well..now I also want to curse Bekasi's traffic.
Angkot 02 yang kutumpangi tidak kunjung maju. Mencoba bersabar, dan berpikir bahwa penyebab segala kemacetan ini adalah maraknya area perbelanjaan di rute perjalanan jalur Bekasi-Pondok Gede. Lihat saja, tak jauh dari depan komplek rumahku ada Alfa Midi. Beberapa meter kemudian ada Superindo. Setelahnya, komplek perumahan Duta yang terkenal sebagai salah satu pusat jajanan pasar. Sekian meter dari Duta, ada Tiptop. Setelah Tiptop, perjalanan akan menuju Mall Pondok Gede yang diapit oleh pasar (yang mengambil setengah ruas jalan). Jika tiap pengendara mobil atau motor memiliki keinginan yang sama yaitu berbelanja, sudah pasti semua melewati jalan ini kan? Aku langsung mengasihani diriku sendiri yang harus sabar melewati macet yang--mungkin--ditimbulkan oleh orang-orang yang ke Superindo atau Tiptop. Resiko jika mau menuju Pondok Gede.
* * * * *
Pukul 11:23. Duduk dengan cemas, gelisah, mulut cemberut dan mata mengernyit di angkot K22. Lapangan Pondok Gede.
Tujuan awalku memang syuro. Tapi melihat kondisi saat ini (angkot K22 ngetem), rasa-rasanya tujuanku ke Mesjid Nurul Iman sekarang adalah numpang shalat Dzuhur. Titik.
Pukul 11:48. Mata menatap lurus. Ekspresi datar. Mulut tertutup rapat.
Angkot K22 baru melewati Jatiwaringin. No hope buat sekedar shalat Dzuhur tepat waktu. Apalagi ternyata macet kembali menghadang di Pangkalan Jati. Dan siapa yang menduga? Supirnya mencari alur alternatif lain untuk menghindari macet. Begitu tau hal itu, kekesalanku memudar dan berganti menjadi panik. Aku buta arah, kemana supir ini akan membawa--aku--penumpangnya? Yang ku tahu, sang supir meyakinkanku kalau angkot ini akan tetap melewati pondok bambu. Baiklah.
Tidak lama dari berputar baliknya angkot, supir tiba-tiba berkata pada mas-mas yang duduk di kursi depan, yang di sebelah supir. "Mas, saya agak lupa jalan nih. Habis ini kemana ya?"
ASTAGHFIRULLAH
Rasanya emosi dalam diri ini udah meluap-luap. Apalagi sepanjang perjalanan di rute alternatif itu, supir berulang kali berkata "Rute ini malah makin jauh ya? Harusnya tadi biarin aja macet", "Ini belok kiri tadi bisa ya?", "Kalau lurus bisa tembus Duren Sawit,". Meracau sendiri ia. Dan aku semakin lemas dan kesal.
Akhirnya penumpang kursi depan mengarahkan supir untuk belok kiri jika tidak mau terlalu jauh berjarak dengan Pondok Bambu.
* * * * *
Pukul 12:22. Masjid Al-Anwar Pondok Bambu.
Syukurlah angkot K22 melewati Jalan Kejaksaan. Aku bisa turun di Masjid Al-Anwar dan menunaikan shalat Dzuhur disana. Mengambil wudhu, shalat, dan tilawah sebagai pelepas penat dan penenang hati. Ketika tilawah, aku menangis karena merasa kelelahan menghadapi macet dan kesal karena pagi ini kesiangan bangun. Akhirnya terbata-bata antara melantunkan ayatNya dengan menangis, namun setelah empat 'ain aku pun menjadi tenang. Alhamdulillah.
"Nui..syuronya udahaaan. Kamu dimana? Huhuhu"
Whatsapp dari Kak Dian. Aku menjawab bahwa aku sedang di Al-Anwar, dan berpamitan izin pulang.
Hasil syuro? Kak Aji akan share. Lebih baik menunggu. Kekecewaan pada diri sendiri mengurungkan niatku untuk bertanya hasil syuro dan berkomunikasi dengan anggota MS lainnya. Malu. Merasa bersalah. Merasa ga bertanggung jawab.
Akhirnya aku pulang dengan perasaan yang lebih tenang, walaupun kecewa itu masih ada.
* * * * *
Penasaran.
Hasil syuro tadi itu bagaimana?
Notifikasi whatsapp berbunyi. Dari Kak Daus.
"Mohon maaf kawan...Kalau berangkat sekarang apa syuronya masih jalan?"
Kak Annisa: "Udah selesai dari Zuhur tadi"
Pukul 15:06. Tak ada bahasan lanjutan. Oke. lebih baik menunggu.
.....
Ding!
Notifikasi Whatsapp berdentang pada pukul 17:23. Dari Kak Daus. Bertanya apakah hasil syuronya sudah menentukan ketua Alumni Rohis terpilih atau perlu ada syuro lanjutan. Tapi dialog terhenti disitu.
.....
Ding!
Kali ini dari Kak Aji pada pukul 17:52 . Mem-forward kabar dari Mesir sana. Tentang Jenderal Sisi dan rezim militernya yang mulai membantai rakyat. Tentang RS yang mengatakan angkat tangan dengan banyaknya jumlah korban. RS yang tak punya alat bedah dan pasokan darah. Ditutup dengan pesan ukhuwah agar menyelamatkan umat Islam di Mesir. Doa terkirim untuk bersatunya umat Islam di Mesir.
Doa terkirim untukmu, syuhada Mesir. Semoga dunia Internasional tidak kembali membisu dalam peristiwa ini. Aamiin.
* * * * *
Pukul 19:24
Penasaran. Bagaimana hasil yang didapat dari syuro siang tadi?
Menunggu. Sungkan bertanya. Terdiam. Pening.
Syuro tadi tidak diikuti olehku dan Kak Daus. Dan Kak Annisa bilang hasilnya akan di share oleh Kak Aji. Tapi mana...??
.....
.....
Lebih baik menunggu sampai ada yang angkat bicara.
D'oh. I'm such a coward
No comments:
Post a Comment