Monday, January 27, 2014

Pindah Blog



Sesuai judulnya, blog ini sudah bukan blog utama saya. Yang sudah menjadi follower (ada g ya) blog ini, sila mampir ke blog utama saya :)


(ya, masih di blogspot kok hehe)

Friday, September 27, 2013

Seminar Kepemimpinan part 1. Rantai Gajah


Ahad yang lalu, 15 September 2013, aku ikutan seminar kepemimpinan #TheGreatLeader di Rabbani Rawamangun. Jargonnya sih menyebutkan nama Khalid bin Walid. Kupikir acaranya mungkin akan membahas tentang sahabat Rasulullah yang digelari sebagai "Pedang ALLAH yang terhunus" itu. Aku pun jadi tertarik ikut karena membayangkan akan mendapat pencerahan mengenai kepemimpinan dan kisah Khalid bin Walid. Apalagi tiket seminar tersebut mendapat diskon 50% bagi follower  @Sahabat_Rasul, yaitu hanya membayar Rp50,000 dari seharusnya bayar Rp100,000 hehehe. (FYI sedikit, aku biasanya berani bayar tiket dibawah/seharga Rp50,000 untuk seminar-seminar ilmu. Tapi kalo di atas harga itu, aku mikir-mikir berkali-kali dulu yang lamaaaaa hahaha).

Jadi, berangkatlah aku ke seminar tersebut dengan segudang harapan. Harapan memperolah ilmu baru tentang kepemimpinan (karena aku sama sekali payah memimpin diri sendiri T__T), memperoleh ilmu baru mengenai Khalid bin Walid, dan harapan melebarkan ruang gerak. Kenapa melebarkan ruang gerak? Karena aku terbiasa jadi anak rumahan yang buta arah dan ga tau jalan. hiks...Jadi ini akan jadi pengalaman bepergian ke daerah rawamangun hahahhaa :p

Aku berangkat di antar ayah. Begitu sampai di Rabbani, aku sempat bingung. Ini toko baju kan ya...seminarnya dimana? Aku yang baru pertama kali ke Rabbani jadi agak norak juga hahhaha. Akhirnya di lantai dasar itu aku nanya ke mbak-mbak kasir mengenai seminar. Dan mbak nya langsung mengatakan kalau seminar ada di lantai 5, sambil menunjukkan arah elevator. Aku sempet kagum juga pas denger penjelasan mbaknya. Wah..lantai 5? Tinggi juga ya untuk sebuah toko baju. Apalagi pake lift segala. Keren! <-- Ke-norak-an pertama :p

Begitu sampai di lantai 5, pemandangan begitu keluar lift langsung berupa aula luas gitu. Aku jalan aja dan mendatangi meja registrasi, yang langsung disambut dengan kata "Maaf Mbak, sepatunya dilepas dulu di sana (sambil nunjuk rak sepatu)".

"Oh, maaf Mbak saya ga tau". Aku langsung balik arah ke tempat rak sepatu, dan begitu sampai rak sepatu (yang ternyata tempat aku keluar dari lift), tertampanglah notice yang cukup besar: "Harap meletakkan sepatu/sandal di tempat ini". Doeeeeeeng ternyata ada pemberitahuannya! Aku kenapa pas keluar lift ga nyadar sih! malu bangeeeeeet < Ke-norak-an kedua hahhhaha

Setelah insiden itu, aku balik lagi ke meja registrasi dan duduk di tempat peserta. Aku duduk di baris belakang, dan hanya ada satu orang di samping aku. Aku salaman sama dia, tapi karena aku orangnya introvert, rasanya mau kenalan dan ngobrol tuh beraaaaaat banget. Padahal harunys mudah karena cuma satu orang doang. Akhirnya aku duduk diem, tapi dalem hati mikirin pertanyaan-pertanyaan yang bisa aku lontarkan buat kenalan. Duh, suasananya awkward gini..aku mau ngomong apa ya??

Alhamdulillah..sekitar 5 menit berlalu, mbak yang di samping aku yang duluan nyapa aku. Akhirnya kita berkenalan, dan nama dia Irma. Kita akhirnya ngobrol-ngobrol sedikit sampai akhirnya acara di mulai.

Acara dimulai dengan intermezzo dan ice breaking. Kemudian dilanjutkan oleh pemateri pertama, yaitu Surya Fazar. Aku ga kenal dia, tapi first impression aku ke dia adalah: Tinggi, ya. (*Gubrakk)

Second impression aku ke dia setelah dia ice breaking dan memperkenalkan profilnya: What? Kelahiran 1994? udah jadi trainer? Subhanallah...ga nyangka umurnya bahkan lebih muda dari aku.

Dan seiring berjalannya materi, aku jadi malu sendiri karena kata-kata dan materi dari dia bikin aku jleb jleb jleb banget. Pas materi tentang "rantai gajah" aku sampai nangis. Dan aku kembali menangis ketika kami, para peserta, diminta saling bergandengan tangan dan membentuk lingkaran untuk mendeklarasikan janji kami untuk menjadi pribadi ALLAH yang istimewa. Istimewa bagi diri sendiri, istimewa bagi keluarga/ sahabat/lingkungan sekitar, istimewa karena ALLAH telah mengistimewakan penciptaan kami :')

Oh iya. Tentang "Rantai Gajah". Disebut "Rantai Gajah" karena dianalogikan melalui pertanyaan ini:

"Bagaimana cara menjinakkan gajah liar?"

*silahkan sebelum lanjut membaca tulisannya, dijawab masing-masing dulu hehehe*

.......

........

..........

Yak. Yang sudah punya jawaban, boleh dicocokkan dengan jawaban dari trainer Surya ya,,Ternyata untuk menjinakkan gajah liar itu cukup mudah. Pertama, bius gajahnya hingga tak sadarkan diri. Lalu, pasang rantai kapal/tali yang tebel di kakinya. Tunggu sampai gajah liarnya bangun. Lalu ketika sang gajah bangun dan berlari--mencoba kabur--pada jarak tertentu apa yang terjadi? Gajahnya jatuh dan ga bisa maju karena terikat rantai kapal. Kalau dia mau berusaha bangun dan maksa lari lagi, apa yang terjadi? Gajahnya jatuh lagi. Berulangkali si gajah jatuh bangun jatuh bangun sampe akhirnya kecapekan. Abis itu datanglah orang yang membius dia tadi, dengan membawa makanan yang ga enak. Kira-kira dimakan ga? Kalau kecapekan sih ya dimakan deh biar nambah energi.

Bayangkan jika keadaan ini terjadi berbulan-bulan, atau setidaknya berhari-hari. Kira-kira sang gajah bakalan protes sama makanan yang ga enaknya, atau malah terbiasa? Trus gajahnya bakal nyoba kabur atau udah kebiasa santai-santai dan dapet makanan?

Lalu bagaimana kalau rantai kapal yang mengikatnya selama berhari-hari atau berbulan-bulan itu akhirnya dilepas? Masihkah gajah mencoba kabur?

Sang gajah ga mencoba kabur lagi. Karena rantainya sudah dipindahkan.

Pindah kemana?

Ke pikiran si gajah. Si gajah udah menyimpan tuh dalam memorinya bahwa dia ga bisa kabur. Udah berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, dia terbiasa berdiam dan dapat makanan gratis. Dia masih mengingat bahwa dia ga bisa kabur karena percuma--dia jatuh terus. Dan si gajah percaya bahwa percuma untuk kabur.

Nah, lalu bagaimana dengan kita? Ternyata kita juga punya loh "rantai gajah" ini. Kita punya "rantai gajah" yang membatasi diri kita untuk berusaha bergerak dan berlari untuk mencapai tujuan kita. Hanya saja, "rantai gajah" yang mengikat kita untuk berjalan adalah berupa:
1. Aku bodoh
2. Aku keturunan miskin
3. Aku tidak bisa sukses
4. Aku tidak percaya diri
5. Aku tidak bisa seperti mereka
6. Aku takut gagal
7. dan lain-lain

Bingung? sekarang coba deh ambil secarik kertas dan pikirkan (serta analisa) "rantai gajah" kita beserta konsekuensinya. Kemaren, ini "rantai gajah" yang aku bikin.


Dari gambar diatas, bisa dilihat "rantai gajah" yang aku punya, yang membuat aku merasa susah untuk bergerak dan berlari maju menuju kesuksesan. Aku ambil contoh satu ya buat dijelasin..

1.
Rantai Gajah: Ga tau jalan (buta arah)
Apa yang Terjadi jika Ga tau jalan? Aku ga berani pergi-pergi keluar rumah yang jauh jaraknya.
Apa yang terjadi jika Aku ga berani pergi-pergi? Link untuk mencari ilmu (seminar, dll) jadi sedikit.
Apa yang terjadi jika Link untuk cari ilmu sedikit? Ga berkembang potensi dalam diri aku.
Apa yang terjadi jika Potensi diri ga berkembang? Aku jadi useless dan ga bermanfaat untuk orang lain.

*Dan diteruskan pertanyaan ini sampai mentok dan ga tau mau jawab apa lagi. Dalam kasus aku, kalau aku udah jadi useless dan ga bermanfaat untuk orang lain, maka yang terjadi mungkin aku sedih dan kecewa sama diri sendiri. Terus kalau sedih dan kecewa, apa yang terjadi? Mungkin ga mau punya temen karena malu :((

Kemudian, setelah menganalisa rantai gajah dan konsekuensinya, list berikutnya dibuat pula yang isinya tentang resolusi harapan jika "rantai gajah" tersebut bisa dibuang. Ini resolusi yang aku bikin kemaren.


Aku contohkan lagi dengan kasus yang sama:

1.
Rantai Gajah: Ga tau jalan (buta arah)
Keuntungan Jika Rantai Tersebut Hilang:
- Bisa kemana-mana sendiri
- Bisa nyari ilmu dimana-mana
Knowledge berkembang
Bagaimana Menghilangkannya?
- Jangan takut untuk sering jalan-jalan
- Jangan ragu untuk tanya arah lokasi
- Jalani dan alami sendiri bepergian dan amati lokasi

Nah. Sekian dari contoh resolusi aku. Harapannya, dengan melakukan kedua tahapan seperti di atas, kita--aku khususnya--jadi bisa menganalisa diri sendiri nih. Apa hambatan kita dan keuntungan apa yang sebenarnya bisa kita dapatkan dengan menghilangkan "rantai gajah" tersebut. Jujur, aku pas udah analisa "rantai gajah" diri sendiri jadi sedih..betapa sudah ada waktu dan manfaat yang terbuang hanya karena aku memanjakan dan menuruti "rantai gajah"ku sendiri :(( Padahal kalau aku bisa memikirkan dan menuruti langkah menghilangkan rantai gajah itu, setidaknya aku bisa lebih baik dari sekarang. Yup, kini saatnya untuk berubah! Hamasah! ( '^')9

Akhir kata, semoga info ini bermanfaat untuk mulai memimpin diri sendiri ya :D
Pimpin diri sendiri untuk menunju kesuksesan yang diidamkan ^^

*part 2 menyusul. hehe. Insya ALLAH tentang mem-planning masa depan ;)

Tuesday, August 13, 2013

random thought. don't even know what I'm writing


Pagi ini membuka Facebook, dan salah satu yang terpampang di newsfeed adalah status dari Islamedia berikut ini:

"40 Pasangan Menikah di Tengah Demonstrasi Pro-Mursi, Para Ikhwan Akhwat di Indonesia Bagaimana?"




*berita selengkapnya bisa dibaca di page Islamedia aja ya hehe

Tapi dari headline seperti itu, tiba-tiba terlintas dalam benak..


di Palestine yang sedang berjuang melawan Zionis, pernikahan massal juga terjadi. Demi melahirkan calon-calon syuhada


di Mesir, bahkan dalam suasana demonstrasi dan kecaman militer, syiar Islam tetap berjalan. Mereka menikah sambil meneriakkan keadilan, tak lupa akan perjuangan


di Indonesia? paling banter, banyak yang pacaran lol :p


...kalau Indonesia (harus) berada dalam kondisi seperti Palestine/Mesir, sikap masyarakat akan kayak gimana ya? Kalau lihat dari berita di televisi sih, yang gagal UN aja ada yang bunuh diri. Yang ditinggal nikah ama pacarnya, ada yang minum baygon. Ada pembagian zakat, dorong-dorongan injek-injekan sampe nenek-nenek banyak yang pingsan. Anak sekolah, tawuran. Anak bunuh ibu, ibu bunuh anak, suami bunuh istri, dan lain-lain konflik keluarga berujung pembunuhan. Hamil luar nikah, digugurin.


...jangan-jangan kalau Indonesia (harus) berada dalam kondisi menekan dan diteror kezhaliman, banyak yang memilih mati instan. naudzubillahi min dzalik.


astaghfirullah mikirnya serem banget sih aku.


ga lah. MPR aja diserang rakyat karena dirasa kenaikan BBM ga adil. Soeharto aja berhasil digulingkan oleh mahasiswa. Demonstrasi aja banyak terjadi di kantor-kantor lurah/camat/DPRD.


...kalau Indonesia (harus) berada dalam kondisi seperti Palestine/Mesir? berjuang melawan atau..?


lalu bagaimana dengan Rohingya dan Suriah? Yang benar-benar pasrah karena tak berkekuatan melawan? Hanya bisa berpikir bagaimana bisa bertahan hidup.


...jadi, kalau Indonesia (harus) berada dalam kondisi seperti negara-negara yang sedang ditekan kezhaliman, akankah berjuang melawan atau pasrah dengan keadaan?


.....


Oke ini ngaco banget dan bener-bener random deh yang aku pikirin -___-





Monday, August 12, 2013

Inilah efek dari terlalu menggampangkan sesuatu dan menundanya T__T


Singkat cerita--karena lagi panik, jadi ga mood dan ga bisa nulis banyak--, foto yang aku upload di website untuk wisuda semester genap tahun ajaran 2012/2013 masih merupakan foto narsis-dengan-muka-close-up-dan-nyengir-kuda asal-asalan yang aku upload dengan niat: "yang penting ada dulu, nanti bisa foto formal dan resmi dan ganti foto asal-asalan ini"

Setelah upload foto asal-asalan dengan niat begitu pada tanggal 29 Juli 2013, yang aku tahu pendaftaran wisuda akan dibuka sampai tanggal 12 Agustus 2013.

Oke!

Waktu berlalu. Aku santai-santai saja. Dan berniat akan mengganti foto setelah punya foto formal nan resmi ala pelamar kerja. Nanti, ketika akhir masa pendaftaran.

Hingga akhirnya hari ini, 12 Agustus 2013. Hari ketika aku akan meng-upload foto yang baru.




.....

Great. I cannot login.

Meaning I cannot change my previously-uploaded shameful-narcissistic-photo

Dear God, my photo...

I DON'T WANNA HAVE A BACHELOR'S DIPLOMA WITH MY NARCISSISTIC PHOTO ON IT!!




...dan TERNYATA di Twitter UI dituliskanlah itu kalau masa pendaftaran ditutup pada tanggal..

11 AGUSTUS 2013

Okay..

What should I do?! Aaaaaaack!!



Monday, August 5, 2013

Random Story


#1

"Abang beneran mau nikahin aye?" | "Iye, Neng. Nanti kita nikah ye" | "Alhamdulillah. Beneran ya Bang?" | "Iye"

#2

"Neng harus rawatin Emak di rumah sakit dulu Bang. Ga bisa ketemuan dulu" | "Sakit apa emang Emaknya Neng?" | "Komplikasi gitu lah Bang. sakitnya udah menahun" | "Hmm gitu..Abang jadi mikir. Neng nasehatin Emak biar jaga kesehatan.. Soalnye Abang khawatir. Nanti belum tentu Abang selalu ada buat rawatin Emaknya Neng"

*.... | Maksud Abang? Kayak yang udah pernah ngerawat Ibu aye aje

#2

"Bang, kapan dong nikahin aye? Kita udah pacaran hampir setahun loh.. Abang bilang mau nikahin aye" | "Maaf, Neng. Abang belom bisa nikahin Neng kalo masih ada abah aye"

*.... | Emang mau nunggu ampe abah Abang kagak ada?

#3

"Emang kenapa Bang? Abahnye..." | "Abah pengen mantu nyang pinter. Anak kedokteran kalo bisa mah"

*.... | Terus ngapain Abang deketin aye? Ampe ngajak pacaran segale?

#4

"Neng, ke rumah Abang ya" | "Ada apa Bang?" | "Abang sakit. Tapi Abang kangen Neng" | "Alamat sama rute angkotnya gimane Bang?"

#5

"Neng, makasih udah nemenin Abang yang lagi sakit ye" | "Iye Bang. Tapi kok ini rumah sepi Bang?" | "Orangtua pada lagi kerja" | "Oh.." | "Oiya, sekarang udah sore Neng. Bentar lagi orang tua Abang pulang kerja. Neng mau sekalian pulang?" | Hmm..iya Bang. Ntar Neng juga takur kesorean" | "Iye dah. Maaf ye Abang ga bisa anter pulang" | "Gapapa Bang"

#6

"Neng, kapan main lagi ke rumah Abang?" | "Kurang tau Bang. Ada apa?" | "Abang kangen nih"

#7

"Neng, udah mau maghrib. Kalo Neng ga pulang sekarang, ntar ketauan orang tua Abang kalo Neng main ke rumah"

* .... | Kok jadi backstreet gini Bang?

#8

"Mana janji manis Abang?! Aye ga pernah dibolehin ketemu orangtua Abang! Janji Abang untuk nikahin aye ternyata palsu?! Mending Abang cari aje dah tuh sono dokter-dokter kayak kepengenan abahnye Abang!"


* * * * *


Haha. Cerita di atas adalah cerita random yang tiba-tiba terlintas pas tilawahan pagi ini :p

Thursday, August 1, 2013

Aku harap ini bukan karena iri


Temanku sangat menyukai Jepang. Dia punya segambreng koleksi J-Dorama dan mp3 lagu-lagu Jepang. Band favoritnya adalah Arashi. Bahasa Jepang juga sudah mulai ia kuasai. Walaupun ia lulusan Program Studi Inggris FIB UI.

Maka ketika ada studi banding Universitas Ritsumeikan ke perpustakaan UI, ia menjadi salah satu LO dan sempat berkenalan dengan beberapa orang Jepang.

Mungkin dari situ semua bermula

* * * * *

Hari itu, temanku memperkenalkan aku dengan kedua teman Jepangnya, Yama dan Kana. Mereka suami-istri.

Beberapa hari setelahnya, temanku cerita padaku bagaimana ia berdiskusi tentang Jilbab dengan Yama dan Kuma.  Kuma? Nama baru lagi. Aku tertarik dengan cerita tersebut dan menawarkan diri bergabung dalam diskusi tersebut. Siapa tau bisa jadi syiar Islam?

Berkenalan dengan Kuma pada diskusi pertama. Teman BIPA (Bahasa Indonesia untuk Pelajar Asing) Yama. Tampan rupanya. And I think I fall for him.

Kemudian mendapat cerita dari temanku itu. Ia diajak makan di restoran oleh Yama, Kana, dan Kuma. Pegawai restoran berkata beberapa makanan tidak halal. Aku sedikit terkejut, ternyata temanku sudah seakrab itu hingga diajak makan malam di restoran. Tapi ada sesuatu yang mengusikku.

Lalu, aku dikenalkan dengan dua orang Jepang lainnya. Yuki dan Sayaka. Mereka adalah pasangan.

Hari-hari berikutnya, diskusi-diskusi berikutnya dengan Yama dan Kuma. Hingga akhirnya diskusi di apartemennya Yama. Memakan sajian rebusan sayur yang dimasak Kana. Dan pernah juga dibelikan Pizza oleh Yama untuk makan malam.

Wisuda BIPA. Hari yang sama dengan kepulangan Kuma ke negaranya. Temanku memberi hadiah gantungan berupa boneka beruang pada Kuma--Kuma dalam bahasa Indonesia artinya beruang. dan temanku beberapa hari kemudian sangat sedih. Aku pun merasa kehilangan. Suasana perpustakaan UI lantai 3, tempat aku biasa bertemu dengan Kuma sebelum bersiap diskusi, menjadi menyesakkan tanpa Kuma.

Sedikit hiburan beberapa minggu setelahnya. Aku menemani temanku untuk berbelanja sabun muka rekomendasi Kana. Kami pergi bertiga ke Margo City dan melihat-lihat ke gerai The Body Shop, Century, dan Guardian. Menyenangkan rasanya, walaupun aku lebih banyak diam karena temanku dan Kana banyak mengobrol menggunakan bahasa Jepang. Lalu, setelah mendapat barang yang dicari, Kana mengajak makan di The Imperial Kitchen, restoran yang terletak di sebelah Cinema XXI. Makanan disana terbilang lezat, walaupun menurutku agak sedikit mahal. Kami pun akhirnya selesai makan dan pulang.

Dan tiba pula saatnya Yuki untuk pulang ke negaranya. Aku tidak begitu akrab dengan Yuki, jadi tidak merasakan apa-apa ketika ia pulang. Tapi lagi-lagi temanku merasa sedih. Newsfeed Facebooknya mengindikasikan hal tersebut. Apalagi sebelum kepulangan Yuki, temanku ternyata tidak diajak ke acara farewellnya Yuki. Kesedihan temanku jadi bercampur aduk. Antara kecewa tetapi kehilangan.

* * * * *

Waktu berlalu. Aku lupa bagaimana kejadiannya hingga temanku itu menjadi sibuk sebagai guru bahasa Indonesia bagi mahasiswa BIPA. Bukan guru secara formal, lebih kepada guru yang menemani diskusi dan mengajarkan tata bahasa yang baik. Teman berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Dan profesi baru temanku itu membuatku hanya bisa bertemu dengannya antara jam 1 sampai jam 2. Biasanya waktu tersebut digunakan untuk bertemu dan makan siang bersama.

Ketika di sela-sela waktu aku bertemu dan berbincang dengan temanku, temanku menceritakan tentang murid BIPA yang ia ajar. Orang Korea. Nampaknya relasi temanku makin berkembang. Tapi yang membuat aku makin terkejut adalah, suatu hari temanku pernah mengeluh karena lama menunggu kedatangan muridnya di apartemen muridnya tersebut. Tunggu sebentar. Temanku menunggu di apartemen muridnya? Sendirian?. Temanku berkata bahwa awalnya ada rasa keberatan karena muridnya itu laki-laki, tapi muridnya meyakinkan bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Hmm..ya, mungkin orang asing ga tertarik dengan perempuan berjilbab. Tapi secara bebas bisa masuk apartemen orang lain? Laki-laki pula?

Kemudian obrolan kami setiap bertemu, berputar tentang murid-murid yang temanku ajar. Tentang murid A yang sifatnya begini, murid B yang sifatnya begitu, murid C yang kelakuannya seperti ini-itu, dan segala hal tentang apa yang temanku alami ketika mengajar.

Dan tiba-tiba temanku bertanya padaku, apakah aneh jika temanku menyukai salah satu muridnya. Aku sedikit bingung, dulu temanku mengeluhkan betapa pedasnya omongan si murid yang bernama Masaki ini ketika mengobrol dengannya. Sekarang temanku menyukainya karena sifatnya? Dan temanku juga bercerita mengenai hubungan Masaki dan istrinya yang temanku ketahui. Ya, Masaki sudah menikah.

Tak lama, foto Facebook itu muncul. Tas baru dari Kana untuk temanku.

* * * * *

Indri, teman seangkatanku yang berbeda kelas--yang juga aku anggap sebagai salah satu sahabat terbaikku--merencanakan untuk mengadakan buka puasa bersama. Aku sangat setuju dengan rencana itu dan membayangankan betapa menyenangkannya berkumpul kembali dengan teman-teman kuliah. Agak sulit untuk menentukan tanggal karena kesibukan teman-teman kuliahku. Sempat diputuskan tanggal 28 Juli 2013, tapi ternyata banyak teman-teman kuliah yang tidak bisa datang. Akhirnya diputuskan kembali untuk berbuka bersama di tanggal 31 Juli 2013

Tak lama hari berselang dari keputusan buka bersama tersebut, temanku mengupload foto di Facebook. Foto temanku dengan Yama dan Kana ketika makan malam sebelum kepulangan mereka berdua ke Jepang. Melihat foto-fotonya, hal yang mengusikku sebelumnya mulai muncul lagi. Aku memperhatikan temanku dengan make-upnya dan celana panjangnya. Make-up? Celana panjang? Hijab fashion? Sejak kapan temanku penampilannya jadi seperti itu?

Aku tidak masalah kalau soal riasan wajah dan hijab stylish. Tapi kenapa celana panjang? Bukan rok seperti yang selalu temanku kenakan?

Kemudian newsfeed galau dan lagu-lagu yang tak kalah galau memenuhi laman Facebook temanku. Bahkan di Twitter sangat gamblang tertulis bahwa hati temanku bagai tersayat-sayat dan temanku sudah menangis seharian.

Aku tau, pasti temanku sangat kehilangan Yama dan Kana.

Tapi yang aku kurang suka, haruskah mengekspos rasa kehilangan itu secara public?

Yang aku kurang suka, temanku tidak bisa datang ke acara buka bersama tanpa alasan yang jelas. Aku juga tidak bisa datang karena ada kendala kosongnya angkot yang bisa membawaku ke Depok. Tapi apa alasan temanku tidak bisa datang ke acara buka bersama?

Yang aku kurang suka, kenapa temanku tiba-tiba left dari grup yang dibuat untuk mendiskusikan acara buka bersama? Aku paham, acara buka bersama sudah berlalu. Tapi aku tidak meninggalkan grup itu karena disanalah aku bisa berbincang dengan teman-teman kuliahku. Kenapa dia meninggalkan begitu saja..?

Sedih.

Mungkin aku tidak sebaik orang-orang Jepang itu. Aku tidak pernah memberi temanku sesuatu hadiah. Aku tidak menemani dan mengisi hari-harinya. Tapi rasa kehilangan temanku atas orang-orang Jepang itu...? Apakah lebih menyenangkan bergalau-galau mengingat memori bersama mereka daripada bertemu dengan teman-teman kuliah--teman lama?

Aku...

Kesal?

Aku kesal. Ya. Kuharap bukan karena iri. Aku kesal karena merasa pertemananku dengan temanku itu sudah merenggang. Aku kesal melihat temanku menulis perasaan sedihnya dan mengeshare lagu-lagu galau. Aku kesal betapa temanku mengaku tidak galau tapi menjauh dan menyendiri.

Aku kesal. Aku seperti tidak mengenal temanku lagi. Kenapa aku merasa seperti ini? Aku yakin aku tidak iri dengan temanku.

Atau aku iri karena aku tidak diperlakukan seperti Yama dan Kana? Aku kesal karena tidak bisa memberikan perhatian terbaik untuk temanku?

Ini memusingkan.