Habis membaca artikel dari muslimah.or.id di sini, dan menemukan beberapa kalimat yang terasa #jleb buat aku...
* * * * *
لاَ حَسَدَ إِلَّا عَلَى اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الكِتَابَ، وَقَامَ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ، وَرَجُلٌ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَالًا، فَهُوَ يَتَصَدَّقُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ
“Tidak ada iri kecuali untuk dua jenis manusia: Seorang yang Allah berikan kepadanya Al Qur-an (hafal Al Qur-an), membacanya ketika shalat di waktu malam dan di waktu siang, dan yang kedua adalah seorang yang Allah berikan padanya harta yang melimpah, lalu dia membelanjakannya dalam ketaatan baik di waktu malam maupun di waktu siang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ya..aku iri kepada mereka yang hidup dalam ketaatan pada ALLAH..
karena aku tidak--belum--bisa menanamkan ayat Al-Qur'an dalam setiap lisan, pikiran, dan hati..
belum spenuhnya bergantung kepada ALLAH..
belum sepenuhnya yakin bahwa pertolongan ALLAH itu dekat..
belum maksimal menyalurkan dan membelanjakan rezeki yg kupunya..
Kapan aku bisa memanifestasikan hadits yang mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat?
* * * * *
إنما يعطى الرجل على قدر نيته
“Seseorang diberi sesuai kualitas niatnya.”
Bagaimana cara meluruskan niat dan menjaga niat mencari keridhaan ALLAH?
* * * * *
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ( ) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ
“Maka apabila kamu telah selesai (dalam suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. Dan hanya kepada Rabb-mu lah hendaknya kamu berharap.”(QS. Al-Insyirah: 7-8).
....akhir-akhir ini aku malah keasikan bersantai-santai,,
padahal ada prioritas yang aku harus kerjakan..
sesuatu yang bernama
Ah.. :((
* * * * *
“Ibadahnya orang yang lalai itu bernilai rutinitas, dan rutinitas orang yang berjaga (dari lalai) itu bernilai ibadah.” (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Dar Ats-Tsuraya, th. 1424 H. hal. 13)
Aku sadar kalau aku termasuk orang yang lalai. Apakah mutlak bahwa ibadahku hanya bernilai rutinitas? Tanpa adanya jiwa yang mengharap ridhaNya dan bersyukur padaNya? Adakah rutinitasku bernilai ibadah? Wallahu a'lam. Yang kutau, amat tipis dan sulit membedakan lalai yang beribadah secara rutin, atau rutin yang paham beribadah..
* * * * *
Bersungguh-sungguh dalam beramal shalih serta memurnikannya untuk mengharap wajah Allah semata, baik berupa amalan hati, lisan, maupun anggota badan.
Bismillah..insya ALLAH..aamiin
*BRB galau dulu :(



