Kita sudah berjalan masing-masing
Dan sudah pula kuhindari dirimu dari jejaring sosial dunia maya
Tapi ternyata dunia tidak berputar antara kau dan aku saja
* * * * *
Pagi ini, salah satu temanku--sebut saja
A--memiliki
update baru di
facebook:
"A shared B's photo"
Otomatis aku pun bertanya-tanya.
Hmm. Foto apa ya?? Penasaran hehe
Dan tampaklah foto temanku itu dalam album berjudul "Dokumentasi
_____" (nama dirahasiakan)
Deg!
* * * * *
____ adalah salah satu mata kuliah wajib fakultas yang sempat kuambil pada semester lima. Ya, "sempat" kuambil, bukan "pernah". Aku waktu itu melepaskan mata kuliah itu di tengah semester karena adanya latihan untuk pementasan yang--menurut teman-teman lainnya--cukup melelahkan karena sebelum latihan dimulai mereka harus pemanasan (lari menglilingi gedung kuliah sebanyak 7x putaran). Tak hanya itu, latihan dimulai ba'da maghrib dan selesai sekitar jam 10-12 malam.
Bukan hal menyenangkan bagiku yang tak pernah olahraga, terlebih lagi pulang malam.
Sehingga itulah alasanku untuk
drop mata kuliah tersebut, setelah (1) hari pertama latihan aku tidak hadir, dan (2) setelah mendengar pengalaman teman-temanku yang merasakan lelahnya pemanasan di hari itu.
Tapi ada yang tidak diketahui oleh kebanyakan teman-temanku yang mengira hanya itulah alasanku
drop mata kuliah tersebut.
* * * * *
Ada semacam persuasi dan kekhawatiran berlebihan darinya ketika ia memintaku untuk
drop mata kuliah tersebut. Ini diutarakan setelah latihan kedua--yang lagi-lagi aku tak hadir--, setelah adanya insiden latihan
acting dadakan dan pemerannya ditunjuk secara
random oleh dosenku. Sebenarnya alasan persuasi darinya tidak bisa kuterima dengan nurani dan akalku, apalagi ketika ia berkata:
"kalau kamu mau ikut latihan, capek-capek, dan pulang malem gak papa. Tapi tolong, kamu pake sarung tangan ya. Jadi kalau dosen secara iseng dan gak sengaja nunjuk kamu untuk coba acting berpasangan sama cowo, aku ga khawatir"
Kurang lebih seperti itulah ia berkata. Aku tau, aku sudah mencoba mengganti memori yang tak menyenangkan dengannya, jadi aku tidak bisa ingat persis apa yang ia katakan. Yang paling kuingat, ia memintaku memakai sarung tangan karena tak mau melihatku bersentuhan dengan lelaki lain.
Halo? Harus pakai sarung tangan? Kenapa? Ga mau liat aku berpasasangan latihan acting sama cowo? Kenapa? Se-ekstrim itukah rasa cemburunya?
Itulah yang terlintas di benakku saat itu. Kemudian ia pun menyarankan beberapa alasan yang bisa kupakai untuk drop mata kuliah tersebut. Yang berujung pada kenyataan bahwa aku tidak meneruskan mata kuliah tersebut....bersama salah satu sahabatku yang juga tak bisa pulang malam. Alhamdulillah nemu temen yang mau ngurus drop mata kuliah ini juga :'), pikirku saat itu.
* * * * *
Aku mencoba ikhlas. Toh ada benarnya juga bahwa aku memang keberatan pulang malam dan khawatir badan ini remuk-remuk jika seminggu dua kali disuruh lari tujuh putaran.
Aku mencoba ikhlas. Setiap latihan ia pulang malam, dan ternyata ia menjadi salah satu pemeran dalam pementasan itu. Dengan konsekuensi ia akan dirias dengan make-up agar terlihat seperti orang tua (kakek-kakek). Ia dirias oleh teman-teman perempuan, tentu saja.
Aku mencoba ikhlas. Ketika ia memutuskan untuk mengajakku melihatnya latihan tetapi aku sendirian dalam ruangan ramai itu. Aku sudah drop mata kulaih tersebut, toh. Rasanya kurang sreg, ketika belum drop tak pernah datang latihan, tapi ketika sudah drop malah datang...
Aku mencoba ikhlas. Ketika akhirnya kami ribut karena aku jujur padanya akan penyesalanku yang telah drop mata kuliah tersebut, yang membuat kami putus. Aku tau aku salah. Tak seharusnya aku menyalahkannya atas keputusan yang telah kuambil.
Aku mencoba ikhlas. Ketika ia terfoto dalam dokumentasi, sementara aku kembali menguatkan diriku bahwa aku beruntung bisa mendapat waktu tambahan untuk mata kuliahku yang lainnya.
Aku mencoba ikhlas. Ketika akhirnya ia dekat dengan gadis dari fakultas tetangga. Ketika gadis tersebut kudengar selalu menemaninya latihan.
Aku mencoba ikhlas. Ketika di jeda jadwal kuliah, aku mendatangi tempat dimana teman-temanku berkumpul, dan ia disana bersama gadis dari fakultas tetangga itu.
Aku mencoba ikhlas. Ketika aku dan dua orang sahabatku mengobrol di tempat biasa, si gadis dari fakultas tetangga itu duduk sendirian tak jauh dari tempat kami dan bergumam bahwa orang yang ditunggunya tak kunjung datang. Si gadis itu pun kembali ceria dan bercerita banyak ketika ia, mantanku, datang.
Aku mencoba ikhlas. Ketika ia dan si gadis suatu hari jalan bersama, dan mereka berpapasan denganku. Kudengar si gadis bertanya lirih padanya, "yang ini?" ketika melewatiku. Dan tak lama, muncullah foto mereka berdua dalam foto dokumentasi salah satu temanku.
Aku mencoba ikhlas. Ketika akhirnya mereka berdua jadian.
Aku mencoba ikhlas. Ketika akhirnya aku vertigo dan absen kuliah selama seminggu.
Aku mencoba ikhlas. Ketika skripsiku sudah tertunda dua semester dan berpikir alangkah mudahnya jika aku tidak drop mata kuliah tersebut. Aku bisa lulus non-skrip. Seandainya saja...
Ah. Tapi aku tetap mencoba ikhlas ketika saat ini aku menulis kembali kisah yang lalu.
Hehe :D
* * * * *
Memang benar kata Murabbiku yang mengatakah bahwa ikhlas itu ada di awal, di tengah, dan di akhir. Ia berada di awal niatan kita, berada ketika kita tengah menjalankan niatan kita, dan berada ketika kita telah selesai menunaikan niatan kita.
Seharusnya, jika aku memutuskan drop mata kuliah tersebut dengan niatan ikhlas di awal atas pilihanku, maka ketika menjalaninya dan melihat sang mantan berkecimpung serius dalam latihan pementasan sudah semestinya pula aku ikhlas di tengah. Dengan demikian maka aku pun akan ikhlas di akhir, ikhlas yang seterusnya akan terasa setelah kejadian itu berlalu. Ya, sekarang ini harusnya aku pun ikhlas.
Maka pertanyaannya, ikhlas yang bagaimana?
Ikhlas yang kusebut-sebut dalam kisah di atas sepertinya hanyalah kerelaan untuk menerima keadaan, seperti kerelaan melihat orang lain sukses, kerelaan melihat orang lain bahagia, kerelaan atas pilihan diri sendiri, dan kerelaan untuk tidak menyalahkan orang lain atas pilihan diri sendiri.
Padahal seharusnya ikhlas itu merelakan setiap tindakan yang dilakukan, dengan melibatkan ALLAH dan hanya ALLAH lah tujuannya... ikhlas lillahi ta'ala..
(maaf kalo salah ya. Ini definisi ngasal. Jangan dijadikan referensi yaa..)
Huuf.. *tarik nafas, buang nafas*
Yang berlalu biar berlalu. Yang buruk dijadikan pelajaran biar ga salah lagi. Sekarang, ikhlas lillahi ta'ala untuk memperbaiki masa depan dan memperbaiki kualitas diri :) Bukan karena pengaruh manusia, tapi karena ALLAH :D