Temanku sangat menyukai Jepang. Dia punya segambreng koleksi J-Dorama dan mp3 lagu-lagu Jepang. Band favoritnya adalah Arashi. Bahasa Jepang juga sudah mulai ia kuasai. Walaupun ia lulusan Program Studi Inggris FIB UI.
Maka ketika ada studi banding Universitas Ritsumeikan ke perpustakaan UI, ia menjadi salah satu LO dan sempat berkenalan dengan beberapa orang Jepang.
Mungkin dari situ semua bermula
* * * * *
Hari itu, temanku memperkenalkan aku dengan kedua teman Jepangnya, Yama dan Kana. Mereka suami-istri.
Beberapa hari setelahnya, temanku cerita padaku bagaimana ia berdiskusi tentang Jilbab dengan Yama dan Kuma. Kuma? Nama baru lagi. Aku tertarik dengan cerita tersebut dan menawarkan diri bergabung dalam diskusi tersebut. Siapa tau bisa jadi syiar Islam?
Berkenalan dengan Kuma pada diskusi pertama. Teman BIPA (Bahasa Indonesia untuk Pelajar Asing) Yama. Tampan rupanya. And I think I fall for him.
Kemudian mendapat cerita dari temanku itu. Ia diajak makan di restoran oleh Yama, Kana, dan Kuma. Pegawai restoran berkata beberapa makanan tidak halal. Aku sedikit terkejut, ternyata temanku sudah seakrab itu hingga diajak makan malam di restoran. Tapi ada sesuatu yang mengusikku.
Lalu, aku dikenalkan dengan dua orang Jepang lainnya. Yuki dan Sayaka. Mereka adalah pasangan.
Hari-hari berikutnya, diskusi-diskusi berikutnya dengan Yama dan Kuma. Hingga akhirnya diskusi di apartemennya Yama. Memakan sajian rebusan sayur yang dimasak Kana. Dan pernah juga dibelikan Pizza oleh Yama untuk makan malam.
Wisuda BIPA. Hari yang sama dengan kepulangan Kuma ke negaranya. Temanku memberi hadiah gantungan berupa boneka beruang pada Kuma--Kuma dalam bahasa Indonesia artinya beruang. dan temanku beberapa hari kemudian sangat sedih. Aku pun merasa kehilangan. Suasana perpustakaan UI lantai 3, tempat aku biasa bertemu dengan Kuma sebelum bersiap diskusi, menjadi menyesakkan tanpa Kuma.
Sedikit hiburan beberapa minggu setelahnya. Aku menemani temanku untuk berbelanja sabun muka rekomendasi Kana. Kami pergi bertiga ke Margo City dan melihat-lihat ke gerai The Body Shop, Century, dan Guardian. Menyenangkan rasanya, walaupun aku lebih banyak diam karena temanku dan Kana banyak mengobrol menggunakan bahasa Jepang. Lalu, setelah mendapat barang yang dicari, Kana mengajak makan di The Imperial Kitchen, restoran yang terletak di sebelah Cinema XXI. Makanan disana terbilang lezat, walaupun menurutku agak sedikit mahal. Kami pun akhirnya selesai makan dan pulang.
Dan tiba pula saatnya Yuki untuk pulang ke negaranya. Aku tidak begitu akrab dengan Yuki, jadi tidak merasakan apa-apa ketika ia pulang. Tapi lagi-lagi temanku merasa sedih. Newsfeed Facebooknya mengindikasikan hal tersebut. Apalagi sebelum kepulangan Yuki, temanku ternyata tidak diajak ke acara farewellnya Yuki. Kesedihan temanku jadi bercampur aduk. Antara kecewa tetapi kehilangan.
* * * * *
Waktu berlalu. Aku lupa bagaimana kejadiannya hingga temanku itu menjadi sibuk sebagai guru bahasa Indonesia bagi mahasiswa BIPA. Bukan guru secara formal, lebih kepada guru yang menemani diskusi dan mengajarkan tata bahasa yang baik. Teman berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Dan profesi baru temanku itu membuatku hanya bisa bertemu dengannya antara jam 1 sampai jam 2. Biasanya waktu tersebut digunakan untuk bertemu dan makan siang bersama.
Ketika di sela-sela waktu aku bertemu dan berbincang dengan temanku, temanku menceritakan tentang murid BIPA yang ia ajar. Orang Korea. Nampaknya relasi temanku makin berkembang. Tapi yang membuat aku makin terkejut adalah, suatu hari temanku pernah mengeluh karena lama menunggu kedatangan muridnya di apartemen muridnya tersebut. Tunggu sebentar. Temanku menunggu di apartemen muridnya? Sendirian?. Temanku berkata bahwa awalnya ada rasa keberatan karena muridnya itu laki-laki, tapi muridnya meyakinkan bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Hmm..ya, mungkin orang asing ga tertarik dengan perempuan berjilbab. Tapi secara bebas bisa masuk apartemen orang lain? Laki-laki pula?
Kemudian obrolan kami setiap bertemu, berputar tentang murid-murid yang temanku ajar. Tentang murid A yang sifatnya begini, murid B yang sifatnya begitu, murid C yang kelakuannya seperti ini-itu, dan segala hal tentang apa yang temanku alami ketika mengajar.
Dan tiba-tiba temanku bertanya padaku, apakah aneh jika temanku menyukai salah satu muridnya. Aku sedikit bingung, dulu temanku mengeluhkan betapa pedasnya omongan si murid yang bernama Masaki ini ketika mengobrol dengannya. Sekarang temanku menyukainya karena sifatnya? Dan temanku juga bercerita mengenai hubungan Masaki dan istrinya yang temanku ketahui. Ya, Masaki sudah menikah.
Tak lama, foto Facebook itu muncul. Tas baru dari Kana untuk temanku.
* * * * *
Indri, teman seangkatanku yang berbeda kelas--yang juga aku anggap sebagai salah satu sahabat terbaikku--merencanakan untuk mengadakan buka puasa bersama. Aku sangat setuju dengan rencana itu dan membayangankan betapa menyenangkannya berkumpul kembali dengan teman-teman kuliah. Agak sulit untuk menentukan tanggal karena kesibukan teman-teman kuliahku. Sempat diputuskan tanggal 28 Juli 2013, tapi ternyata banyak teman-teman kuliah yang tidak bisa datang. Akhirnya diputuskan kembali untuk berbuka bersama di tanggal 31 Juli 2013
Tak lama hari berselang dari keputusan buka bersama tersebut, temanku mengupload foto di Facebook. Foto temanku dengan Yama dan Kana ketika makan malam sebelum kepulangan mereka berdua ke Jepang. Melihat foto-fotonya, hal yang mengusikku sebelumnya mulai muncul lagi. Aku memperhatikan temanku dengan make-upnya dan celana panjangnya. Make-up? Celana panjang? Hijab fashion? Sejak kapan temanku penampilannya jadi seperti itu?
Aku tidak masalah kalau soal riasan wajah dan hijab stylish. Tapi kenapa celana panjang? Bukan rok seperti yang selalu temanku kenakan?
Kemudian newsfeed galau dan lagu-lagu yang tak kalah galau memenuhi laman Facebook temanku. Bahkan di Twitter sangat gamblang tertulis bahwa hati temanku bagai tersayat-sayat dan temanku sudah menangis seharian.
Aku tau, pasti temanku sangat kehilangan Yama dan Kana.
Tapi yang aku kurang suka, haruskah mengekspos rasa kehilangan itu secara public?
Yang aku kurang suka, temanku tidak bisa datang ke acara buka bersama tanpa alasan yang jelas. Aku juga tidak bisa datang karena ada kendala kosongnya angkot yang bisa membawaku ke Depok. Tapi apa alasan temanku tidak bisa datang ke acara buka bersama?
Yang aku kurang suka, kenapa temanku tiba-tiba left dari grup yang dibuat untuk mendiskusikan acara buka bersama? Aku paham, acara buka bersama sudah berlalu. Tapi aku tidak meninggalkan grup itu karena disanalah aku bisa berbincang dengan teman-teman kuliahku. Kenapa dia meninggalkan begitu saja..?
Sedih.
Mungkin aku tidak sebaik orang-orang Jepang itu. Aku tidak pernah memberi temanku sesuatu hadiah. Aku tidak menemani dan mengisi hari-harinya. Tapi rasa kehilangan temanku atas orang-orang Jepang itu...? Apakah lebih menyenangkan bergalau-galau mengingat memori bersama mereka daripada bertemu dengan teman-teman kuliah--teman lama?
Aku...
Kesal?
Aku kesal. Ya. Kuharap bukan karena iri. Aku kesal karena merasa pertemananku dengan temanku itu sudah merenggang. Aku kesal melihat temanku menulis perasaan sedihnya dan mengeshare lagu-lagu galau. Aku kesal betapa temanku mengaku tidak galau tapi menjauh dan menyendiri.
Aku kesal. Aku seperti tidak mengenal temanku lagi. Kenapa aku merasa seperti ini? Aku yakin aku tidak iri dengan temanku.
Atau aku iri karena aku tidak diperlakukan seperti Yama dan Kana? Aku kesal karena tidak bisa memberikan perhatian terbaik untuk temanku?
Ini memusingkan.
No comments:
Post a Comment